Hidup Damai Berdampingan Dengan Virus Corona


Oleh Dr. Fuad Bawazier*



WABAH virus corona sepertinya tidak akan selesai tahun ini. Indikasinya semakin kuat, sang virus terus melanglang buana dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri lain.

Begitu terus akan berputar putar di muka bumi tidak beda dengan virus flu yang kita kenal selama ini yang sudah menjadi penyakit di semua negeri di seluruh dunia.

Sampai bisnis vaksin corona benar benar mapan, seperti vaksin flu, vaksin meningitis dll. Lalu semua orang yang takut akan minta divaksin antivirus corona, seperti vaksin flu, vaksin meningitis dll itu.

Kemelut wabah ini utamanya karena policy pemerintah yang semrawut, tidak efektif, dan rakyat yang tidak disiplin.

Kenyataannya, kehidupan dunia sekarang amat terbuka seakan akan bumi ini satu kesatuan negeri tetapi kenyataannya policy-nya amat berbeda beda sehingga bila wabah selesai di satu negeri, di tempat lain masih ada (terjangkit), lalu menulari lagi dan begitu seterusnya, berputar putar.

Jangankan antarnegara, di dalam negeri saja ada perbedaan policy antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang sering dibarengi dengan rasa persaingan sampai permusuhan, saling serang, saling menjatuhkan dan saling menyalahkan, sehingga sang virus semakin sulit diatasi.

Bukan saja di Indonesia tapi juga di banyak negara lain, wabah Covid-19 ini terasa dijadikan panggung politik, sehingga berbagai policy kurang efektif.

Baik policy yang canggung dan tanggung maupun policy yang keras.

Gangguannya di lapangan, amat banyak seperti tidak disiplin, tidak kompak, tidak ada kordinasi, agenda terselubung politisi sampai yang cari keuntungan dan KKN di tengah kebuntungan karena Covid-19.

Sementara itu mobilitas nasional maupun internasional manusia sebagai pembawa virus tidak bisa dihalangai atau terbendung.

Makanya wabah akan terus berputar dan kembali balik ke daerah yang sudah dinyatakan "sembuh atau terbebas" dari virus.

Jadi inilah dilemanya sekarang ini, uang ngocor tapi wabah berlanjut, rakyat melarat, ekonomi morat-marit, dan pemerintah terbirit birit.

Jika kita percaya begitu dan berani jujur mengakuinya, bukankah akan lebih baik bila kerangka strateginya diubah menjadi "mari kita hidup damai berdampingan dengan virus corona dan mafia virus atau mafia farmasi" , sambil secara bertahap/ berjalan memperbaikinya atau memerangi mafia nya.

Ini lebih baik, lebih realistis daripada policy canggung dan tanggung seperti sekarang ini yang pandeminya tidak juga teratasi tapi kehidupan ekonominya hancur, lebih mengerikan lagi.

Di depan mata, puluhan juta pekerja akan jadi penganggur dan miskin. Itulah extra costs yang sedang kita dan dunia bayar karena kecerobohan, ketidakkompakan policy, bahkan saling menjegal.

Dan jangan lupa bahwa bukan tidak mungkin disini ada yang diam diam sebenarnya menginginkan wabah Covid-19 ini berlangsung lama agar ada excuses untuk jualan vaksin, atau bagi yang ingin mencetak uang, dengan alasan utk menolong pebisnis dan rakyat miskin karena ekonominya hancur oleh pandemi Covid-19.

Jadi mengatur strategi baru untuk hidup berdampingan secara damai dengan virus corona nampaknya suatu pilihan, suatu keniscayaan, daripada tidak dapat dua duanya.

Akhirnya, terima kasih ya pada rakyat Indonesia yang tetap sabar. Bahkan sabar banget. ***

(*)' Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia'(PII) dan'Himpunan Mahasiswa Islam'(HMI),' mantan Menteri Keuangan RI, Dirjen Pajak, pendiri Partai Hanura, PAN.