Hilangkan Cemas, Psikolog Anjurkan Batasi Paparan Informasi Covid-19

Merasa cemas saat situasi pandemi covid-19 adalah respons yang wajar, mengingat dipersepsikan sebagai situasi yang berbahaya atau dapat mengancam keselamatan. Namun, rasa cemas tersebut perlu dikelola agar individu tetap bisa berfungsi.


Hal ini disampaikan oleh Shinta Mayasari, M.Psi saat
dihubungi melalui telepon, Selasa (31/3).

Salah satunya dengan membatasi paparan informasi terkait
covid-19, baik melalui media online, tv, dan lain-lain.

Apalagi kalau individu tersebut memang memiliki
kepribadian yang mudah takut dan cemas, tentu pembatasan informasi perlu
dilakukan.

"Namun kita tetap perlu mengetahui perkembangan covid-19.
Pilih sumber yang akurat dan terpercaya misalnya dari pemerintah atau
kementrian kesehatan. Dan mengecek informasinya tidak perlu berulang kali,
cukup 1 atau 2x saja sehari," jelasnya.

Menurutnya, agar masyarakat mengalihkan perhatian atau
pikiran tidak melulu ke corona  dengan
melakukan kegiatan senormal mungkin, dan membuat jadwal kegiatan/aktivitas
rutin aga dengan tetap memperhatikan perlindungan diri.

"Misalnya kita mengerjakan hobi, melakukan hal-hal
yang selama ini tidak sempat dikerjakan karena aktivitas di luar rumah seperti
mendekorasi ulang rumah, berinteraksi dengan keluarga, bermain, mendampingi
anak belajar, beribadah atau berolahraga bersama keluarga," jelasnya.

Lanjutnya, bagi yang tinggal sendiri juga tetap bisa
berinteraksi dengan sahabat atau keluarga. Hubungi mereka dangan kecanggihan
teknologi misalnya video call.

"Bertukar kabar, saling berbagi cerita, beri
semangat pada mereka, tularkan rasa optimis dan kebahagiaan. Interaksi tetap
boleh hanya tidak secara langsung," ujarnya.

Tambahnya, berpikir positif juga dianjurkan agar mood bahagia maka produksi antibodi
dalam tubuh akan meningkat sehingga daya tahan tubuh meningkat.

"Tapi kalau kita cenderung berpikiran negatif,
perasaan takut/cemas berlebihan sehingga mood menjadi sedih, maka produksi
antibodi menurun sehingga kita malah lebih rentan terkena virus," kata
Shinta.

Lanjutnya, berpikir negatif dan merasa cemas serta
ketakutan akan hal-hal yang belum terjadi tentu menghabiskan energi kita. Lawan
hal ini dengan bertindak. 

"Mengambil tindakan untuk menghentikan kecemasan.
Misalnya melindungi diri dan keluarga, rajin cuci tangan, mengelap perabot
rumah yang sering disentuh dengan desinfektan, menjaga asupan gizi yang sehat,
berolahraga secara teratur, membatasi diri dari interaksi langsung dan
kerumunan, menghindar dari orang yg sakit," jelasnya.

Akademisi Unila ini juga menyarankan, saat perasaan cemas datang coba lakukan teknik relaksasi sederhana dengan bernafas 478.

"Tarik nafas 4 detik, tahan 7 detik, lalu hembuskan 8 detik. Lakukan latihan ini berulan karena dapat membantu kita lebih relaks," tuturnya.