Hutan Mangrove, Pilihan Destinasi Wisata Di Padangcermin Pesawaran

Wisata hutan mangrove di Desa Gebang Kecamatan Padangcermin/Ist
Wisata hutan mangrove di Desa Gebang Kecamatan Padangcermin/Ist

Kabupaten Pesawaran terkenal dengan segudang destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.


Wisata pantai hingga perbukitan dengan keasrian alammya, mungkin sudah biasa. Namun, ada yang cukup berbeda. Yakni, kawasan wisata hutan mangrove di Desa Gebang Kecamatan Padangcermin.

Direktur Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Makmur Jaya Desa Gebang, Toni Yunizar mengatakan, hutan Mangrove Petengoran mulai dibuka menjadi tempat wisata sejak tahun 2019 lalu. 

Wisata hutan mangrove di Desa Gebang Kecamatan Padangcermin/Ist

“Wisata ini mulai dibuka sejak tahun 2019 namun karena adanya Covid-19 baru menerima pengunjung lagi sekitar bulan Desember tahun 2020 lalu,” kata Toni, Minggu (21/3).

Menurutnya, kata Petengoran sendiri diambil dari salah satu jenis tanaman mangrove yang ada di sana yaitu tengor/tangar/tengar. 

“Selain itu, di dalam hutan mangrove yang luasnya mencapai 113 hektare tersebut terdapat Bakau Kecil (Rizhophora Stylosa), Bakau Minyak (Rhizophora Opiculata), dan Bakau Kurap (Rizhopora Mucronata) dengan tinggi 10 sampai 12 meter,” ujarnya. 

Toni menuturkan, untuk menuju lokasi, wisatatawan harus menempuh waktu kisaran 30 menit dati Kota Bandarlampung. 

“Ekowisata Desa Gebang bisa ditempuh sekitar 30 menit dari bandar lampung, lokasinya satu jalur masuk menuju pantai Dewi Mandapa, dibuka setiap hari untuk umum mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 18.00 dengan biaya masuk per motor Rp15 ribu dan Rp50 ribu untuk kendaraan roda empat,” jelasnya. 

Wisata hutan mangrove di Desa Gebang Kecamatan Padangcermin/Ist

Lanjutnya, selain menjadi destinasi wisata, hutan Mangrove juga bisa dijadikan sebagai tempat prewedding indoor dengan menyuguhkan pemandangan mangrove yang sangat indah.

“Selain itu, saat ini kami sedang melakukan uji coba pemanfaatan mangrove dengan membuat madu, tepung dan keripik dari daun mangrove,” terangnya. 

Ia menambahkan, saat ini penghasilan yang di dapat dari wisata Mangrove digunakan untuk perawatan dan penambahan fasilitas mangrove. 

“Mungkin karena adanya pandemi jadi pengunjung yang datang dihari weekend hanya mencapai 50 orang dan di hari biasa hanya 10 sampai 15 orang dari penghasilan tersebut kita keluarkan untuk biaya perawatan dan penambahan fasilitas,” jelasnya. 

“Dibangunnya tempat wisata ini tidak hanya melihat sisi ekonomi saja tapi juga untuk pelestarian agar tanaman mangrove tidak punah,” pungkasnya.