IKWI Lampung Ikut Dorong Indonesia Jadi Pusat "Lifestyle Halal" Dunia

IKWI Lampung saat wibinar
IKWI Lampung saat wibinar

Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Lampung ikut webinar “Memacu Lifestyle Halal Menuju Indonesia Sebagai Negara Rujukan Pusat Halal Dunia” yang digelar IKWI Pusat, Rabu (20/1).


Kegiatan tersebut sebagai rangkaian Hari Pers Nasional 2021 yang akan berlangsung pada 9 Februari 2021. Karena masih pandemi Covid-19, IKWI Pusat meniadakan acara offline.

Menurut Ketua IKWI Lampung Ny. Artati Kartika Dewi Supriyadi Alfian, webinar ini upaya mendorong pemerintah dalam upaya menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia. 

"Indonesia memiliki pasar besar mengingat populasinya muslim terbesar dunia," ujar Artati Kartika Dewi didampingi pengurus IKWI Lampung lainnya: Ny. Hayati Nufus Iskandar zulkarnain, Ny. Prapty Herman BM, Ny. Helmiyati Toha Maksum, Ny. Riska Rojali Umar.

Menurut dia, banyak produk-produk halal unggulan di Indonesia berlabel halal food dan fashion. Diharapkannya, ada perubahan gaya hidup dari konvensional ke halal lifestyle.

Seminar ini dipusatkan di Kantor PWI Pusat, Jakarta dengan dikuti oleh ratusan anggota IKWI dari seluruh Indonesia, dan juga anggota PWI, serta wartawan dari sejumlah media nasional secara virtual.

Narasumber webinar antara lain Head of Financing Card Business BNI Syariah Rima Dwi Permatasari, Direktur Industri Produk Halal KNEKS Afdhal Aliasar, dan CEO & Founder PT Ammana Fintek Syariah  Lutfi Adhiansyah.

Ketum PWI Atal S. Depari mengatakan sejak 20 tahun lalu ekonomi syariah, terutama industri perbankan, terus tumbuh secara bertahap di Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi Syariah ini, banyak melibatkan masyarakat pers dalam menyampaikan pesan-pesan informatif, literasi, dan edukasi kepada masyarakat,” ujarnya dalam sambutan sebelum acara.

Ketum IKWI Pusat Indah Kirana mengatakan webinar tentang lifestyle halal ini sangat diperlukan, terutama bagi kaum ibu untuk mengetahui apa itu produk halal dan tidak halal.

Menurut Indah, dalam belanja kebutuhan sehari-hari masyarakat sering tidak tahu mana produk halal dan tidak halal, karena penempatannya tidak dipisahkan oleh pengelola toko.

“Saya pernah membeli sosis di satu swalayan yang cukup besar di Jakarta. Sampai di rumah, asisten saya bilang kalau itu daging sosisnya tidak halal karena beda warna dan seratnya. Dan setelah diteliti, ternyata benar,” ungkap Indah.

Hal seperti itu, lanjutnya, mungkin banyak dialami oleh masyarakat karena tidak ada pembatas produk halal dan nonhalal.

“Ini baru dari produk makanan. Bagaimana dengan produk jasa lainnya seperti perbankan, asuransi, dan lainnya. Disini kita perlu memahami masalah produk syariah dan gaya hidup halal,” tambah Indah.