Ilusi Pertumbuhan Ekonomi Lampung

Ilustrasi/RMOLLampung
Ilustrasi/RMOLLampung

Introduksi

Setelah enam hari menahan diri untuk tidak menulis tentang pertumbuhan ekonomi Lampung, akhirnya saya menyerah.

Tadinya saya berharap teman-teman dari kampus (yang saya anggap relatif lebih memiliki otoritas intelektual) berkenan mempertanggungjawabkan ilmu yang mereka miliki dengan membuat tulisan kritis untuk mencerdaskan publik.

Setelah enam hari berlalu dan tidak juga ada gelagat itu, walaupun bukan seorang ekonom saya beranikan diri saja untuk menulis tentang pertumbuhan ekonomi Lampung.

Saya tidak akan mengulas tentang standar ganda dan sikap mendua yang dipertontonkan Gubernur Lampung di ruang publik terkait publikasi data BPS, sudah pernah saya singgung dalam tulisan tujuh minggu yang lalu https://www.rmollampung.id/savebps-buruk-wajah-cermin-dibelah, jika buruk ditolak kalau baik diterima.

Saya berikan kata “ilusi” pada judul tulisan ini karena itu kata yang paling mewakili sikap Gubernur Lampung dan media loyalis yang menjadi pendengungnya.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), literatur istilah kedokteran Dorland maupun Nuria, “ilusi” dibedakan dengan “delusi” dan “halusinasi”. Dalam tulisan ini “ilusi” lebih relevan digunakan karena menggambarkan terjadinya kesalahan respon atau kekeliruan memaknai realitas faktual alias kenyataan.

Saya akan sajikan sekelumit catatan yang memberi alasan kuat untuk menyematkan kata “ilusi” terkait respon Gubernur Lampung terhadap data pertumbuhan ekonomi Tri Wulan II (Q2) tahun 2021.

Ilusi Pertama 

Pertumbuhan yang dibanggakan Gubernur dan dielu-elukan oleh media pendengungnya itu angka yang diperoleh dari perbandingan antara kondisi Tri Wulan II (April-Juni) dengan kondisi Tri Wulan I (Januari-Maret).

6,69% sepintas terlihat luar biasa, tetapi jika kita mengetahui bahwa angka itu diperoleh dengan membandingkan kondisi tri wulan sebelumnya yang begitu terpuruk maka keluarbiasaan itu sensasinya menjadi hilang.

Apalagi jika dilihat dari kondisi Tri Wulan IV (Oktober-Desember) 2020, di mana pertumbuhan q to q jatuh sampai ke -8,28% dan yoy turun -2,26%. Tren negatif pertumbuhan ekonomi Lampung sesungguhnya telah terjadi sejak Tri Wulan I (Januari-Maret) 2020, sebelum pandemi mendarat dan berdampak di Lampung, tren negatif itu terus berlanjut sampai Tri Wulan I tahun 2021.

Analogi ilusinya sederhana, seperti menyusuri jalan. Setelah selama setahun menyusuri jalan yang terus menurun, tentu kita akan merasakan sensasi berbeda ketika mulai menemukan jalan menanjak. Inilah yang menyebabkan ilusi, karena sudah terlalu lama jalan menurun terus maka ketika bertemu jalan menanjak kita mudah sekali menganggap tanjakan itu sudah tinggi sekali. 

Kita cenderung lupa bahwa selama setahun ini kita sesungguhnya sudah turun sangat jauh dan tanjakan ini sejatinya belum seberapa, persis seperti perjalanan panjang menuruni lereng Gunung Bromo kemudian bertemu tanjakan kecil di pinggir Kota Malang.

Ilusi Kedua

Pada publikasi yang sama dari BPS (pada  halaman 3-5) telah disajikan enam grafik terkait dinamika mobilitas penduduk Lampung. Sangat lengkap karena dimulai sejak Tri Wulan I tahun 2020.

Saya khawatir Gubernur Lampung beserta para pembantu dan pendengungnya tidak sempat membaca grafik-grafik ini atau memang kurang begitu mengerti membaca data statistik.

Pada enam grafik itu, dengan telanjang dapat dilihat bahwa sepanjang April-Juni kemarin mobilitas penduduk Lampung mengalami lonjakan, baik di tempat perbelanjaan, tempat wisata/rekreasi, ruang-ruang terbuka/taman, tempat transit/hotel maupun perkantoran. Sementara mobilitas di rumah justru menurun.

Informasi yang diberikan oleh grafik mobilitas penduduk itu mengonfirmasi sajian data pada halaman 12 dan 13 tentang pertumbuhan menurut lapangan usaha. Selama tiga bulan itu hampir semua lapangan usaha mulai kembali tumbuh, kecuali sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang justru menurun dibandingkan tri wulan sebelumnya. 

Mobilitas penduduk Lampung yang selama tiga bulan itu mulai beraktivitas kembali di luar rumah telah mendorong tumbuhnya kembali hampir semua sektor lapangan usaha, terutama sektor perdagangan, jasa kesehatan dan transportasi. Walaupun sektor pertanian, kehutanan, perikanan dan sektor industri pengolahan yang porsinya separuh dari struktur PDRB Lampung justru belum menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Lampung. Mungkin sektor ini masih menunggu NTP (Nilai Tukar Petani) kembali berjaya berkat kesaktian KPB (Kartu Petani Berjaya).

Perkembangan menggembirakan pertumbuhan pada sisi lapangan usaha itu menghadirkan ilusi kedua.

Setelah tidur panjang hanya berbaring di tempat tidur selama hampir setahun tentu ketika terbangun dan mulai melakukan aktivitas sederhana sekedar makan-minum dan ke kamar mandi, kita akan merasakan sensasi yang menakjubkan. Keringat yang kembali menetes dan detak jantung yang berdegup lebih cepat dibandingkan ketika tertidur membentuk ilusi seakan-akan kita telah berlari cepat berkilo-kilo meter jauhnya. Seketika seperti sudah merasa sangat kuat dan sehat.

Ilusi Ketiga 

Dari sajian data sisi pengeluaran pada halaman 14 dapat diketahui pula bahwa begitu besarnya peningkatan pengeluaran konsumsi pemerintah, tumbuh sebesar 31,61%. Jauh meninggalkan peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh tipis sebesar 2,91% (mungkin hanya sekedar mengikuti inflasi).

Kesenjangan itu adalah konsekuensi dari postur APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota di Lampung dua tahun terakhir yang tidak ideal, belanja pegawai lebih besar ketimbang belanja modal plus belanja barang dan jasa. APBD lebih banyak dihabiskan untuk hajat kebutuhan internal pemerintah daripada untuk mengungkit daya beli masyarakat.

Inilah ilusi ketiga, ibarat hubungan suami-istri pemerintahnya sudah mengalami orgasme terlebih dahulu sementara rakyatnya belum merasakan kenikmatan apapun.

Konusi

Apapun kita tetap bergembira dengan pertumbuhan ekonomi Lampung Tri Wulan II yang secara year on year (yoy) sudah kembali bergerak ke arah positif, walaupun masih tetap berada di bawah rata-rata nasional dan di bawah rata-rata regional Sumatera.

Kita  tetap bersyukur dengan peningkatan itu sekalipun mengandung ilusi-ilusi yang melenakan. 

Data Tri Wulan II bagi saya hanya sekedar menunjukkan kepada kita bahwa pertumbuhan ekonomi sangat bergantung kepada kondisi penanganan pandemi karena terkait langsung dengan mobilitas penduduk beserta aktivitas perekonomiannya.

Empat minggu PPKM yang sudah dilalui plus perpanjangan dua minggu ke depan apalagi mengalami perluasan dari satu wilayah menjadi enam wilayah di Provinsi Lampung hampir bisa dipastikan akan memaksa perekonomian provinsi ini kembali melakukan restart.

Jika dilihat dari data PMI (Prompt Manufacturing Index) bulan Juli 2021 yang dikeluarkan oleh BI dan IHS Markit, secara nasional kinerja manufaktur kita kembali anjlok kembali ke posisi Juli tahun lalu. Sementara perpanjangan PPKM Level 4 dan Level 3 tampaknya juga akan membuat tren negatif itu berlanjut sampai ke bulan Agustus.

Dengan PMI di bawah 40 poin, industri nasional saat ini sejatinya sedang bersiap-siap menghadapi kemungkinan PHK besar-besaran dan Lampung turut menjadi bagian dari kondisi itu.

Terlepas dari segala ilusinya data Tri Wulan II paling tidak telah memberi kita harapan bahwa ketika mobilitas penduduk kembali mendekati normal dan aktivitas perekonomian masyarakat dapat kembali berjalan, hampir semua lapangan usaha akan kembali tumbuh. 

Tetapi sebaliknya jika pembatasan mobilitas penduduk sewaktu-waktu terpaksa diperketat, diperlama dan diperluas cakupan wilayahnya, maka pertumbuhan akan kembali tersungkur di zona negatif. 

Karena itu Gubernur, Bupati, Walikota dan para pejabat publik di Lampung mestinya dapat menarik pelajaran penting, mari segera kendalikan pandemi ini jika ingin kembali menumbuhkan perekonomian, “bereskan dulu pandemi baru bisa bicara ekonomi.”

Mari terus berikhtiar dan berdo’a agar pertumbuhan ekonomi di Lampung pada Tri Wulan III ini walaupun kembali terpukul keras oleh pandemi hanya membuat kita jatuh terduduk, tidak sampai membuat kita kembali  jatuh terkapar.

Ketua Ormas MKGR Provinsi Lampung