Investasi Korea Selatan di Indonesia Diprediksi Naik Jika Terlibat dalam Ekonomi Syariah 

Sekretaris MES sekaligus CEO RMOL Teguh Santosa dalam webinar internasional Indonesia-Korea/ Repro
Sekretaris MES sekaligus CEO RMOL Teguh Santosa dalam webinar internasional Indonesia-Korea/ Repro

The Korean Center of RMOL bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) menggelar webinar internasional bertema "Indonesia-Korea: Enhancing Special Strategic Partnership and Co-prosperity" yang digelar secara hybrid dari Rumah Djan, Jalan Talang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/11).


Mantan Dutabesar Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi dan Wakil Sekretaris MES sekaligus CEO RMOL Teguh Santosa dan Shin Yoonsung dari Korea Institute for Industrial Economics & Trade. 

Umar Hadi mengatakan, Indonesia dan Korea Setalah tidak memiliki sejarah tapi memiliki kesamaan perjalanan hidup. Ini adalah awal yang untuk menjalin hubungan. 

"Kita berbagi nilai demokrasi yang sama, HAM, pasar terbuka, sehingga ini tidak sulit untuk kita untuk bekerjasama. Masa lalu dan masa sekarang, bagaimana di masa depan? Saya bisa bilang kedua negara bisa menjadi partner yang kuat," kata dia. 

Shin Yoonsung dari Korea Institute for Industrial Economics & Trade memaparkan akibat pandemi Covid-19 terjadi kontraksi GDP secara global di angka 3,5 persen di tahun 2020, menjadi resesi terdalam dalam satu dekade terakhir.

Namun, Shin mengaku optimis situasi akan membaik di tahun 2021 ini. Prediksinya, ekonomi global akan tumbuh 5,6 persen pada tahun 2021. Sementara itu, hubungan diplomatik Korea Selatan dan Indonesia mulai bangkit meski saat Covid-19.

"Di situasi pandemi ini, hubungan Korea Selatan dan Indonesia akan semakin dalam, karena Korea Selatan dan Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 dengan jalan demokratik untuk masyarakat," pungkasnya.

Selanjutnya, Sekretaris MES Teguh Santosa mengatakan, MES berdiri 26 Maret 2021 sebagai organisasi non-profit. MES selanjutnya menjadi forum inklusif untuk menghimpun seluruh sumber daya yang ada dan membangun sinergi antar pemangku kepentingan dalam rangka mengembangkan ekonomi syariah. 

Pada tahun 2020, posisi Indonesia pada Global Islamic Economy Indicator Score Rank berada di posisi ke 4 di bawah Malaysia, Saudi Arabia, United Arab Emirates. 

"Jadi tinggal menunggu waktu Indonesia akan menjadi nomor satu dalam ekonomi islam global. Tinggal tunggu waktunya, kita akan segera di posisi itu segera," kata dia. 

Sebelumnya, pada Global Islamic Economy Indicator Score Rank tahun 2019, Indonesia di peringkat ke-5. Pada tahun 2018 Indonesia berada di posisi 10.

Selanjutnya, Teguh menjelaskan investasi Korea Selatan di Indonesia pada tahun 2021 berada di posisi ke-5 setelah Singapura, Hongkong, China, dan Belanda. Sebelumnya, berada di posisi ke-7 sebelum pandemi Covid-19.

"Peningkatan ini terjadi menyusul investasi besar Korea Selatan pada kendaraan listrik dan baterai di Indonesia. Saya percaya di masa depan, investasi Korea Selatan akan terus naik secara signifikan ketika Korea Selatan terlibat dalam ekonomi syariah. 

Hadir pembicara lainnya Dutabesar Korea Selatan untuk Indonesia Park TaeSung; Ketua GKSB DPR RI-Korea Selatan Edward Tannur dan Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid serta pembicara kunci Menteri BUMN Erick Thohir.