Isbedy: Bangunkan Minat Baca Dari Individu

Demokrasi hanya akan berkembang di suatu masyarakat yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar pendengar dan gemar berbicara. (Daoed Joesoef, dalam Bukuku Kakiku, 2004)


Sastrawan Lampung, Isbedy Stiawan ZS mencermati kata
bijak Menteri Pendidikan dan Kebudayan RI era Presiden Soeharto di atas.

Menurutnya, betapa membaca (literasi) sangat penting bagi
pembangunan peradaban dan demokrasi bangsa.

"Membaca, membaca, dan membaca. Lalu menulislah, karena dengan menulis segala pikiran dan perasaan jadi abadi," kata Paus Sastra Lampung ini pada kegiatan Pemasyarakatan Minat Baca di Hotel Novotel, Kamis (5/3).

Hasi studi Central
Connecticut State University
mengenai 'Most
Literate Nations in The WorldÔÇÖ
2016, menyebutkan bahwa Indonesia menempati
urutan ke-60 dari total 61 negara.

"Dengan kata lain, bahwa minat baca masyarakat kita hanya
0,01 persen atau 1 berbanding 10 ribu," jelasnya.

Menurutnya, minat baca semestinya tumbuh dari individu-individu.
Ia sepakat dengan Daoed Joesoef. Bangunkan lebih dulu minat dan kecintaan
membaca pada individu, baru keluarga, tetangga, dan masyarakat luas.

Tambahnya, saatnya kita berpikir bagaimana minat baca
masyarakat Indonesia semakin ditingkatkan, jika minat baca masyarakat masih
rendah.

Kemungkinan adalah malas membaca dan penyediaan buku-buku
terbatas, serta harga buku yang belum bisa terjangkau oleh saku masyarakat.

"Kalau ketiga ini adalah masalahnya, maka yang hadir di
sini adalah relawan-relawan untuk memviruskan minat baca kepada masyarakat.
Kita tanamkan semangat bahwa "lebih baik buku rusak karena dibaca, daripada
hancur dimakan rayap" sehingga puncak kebahagiaan adalah tatkala buku pribadi
kita dipinjam untuk dibaca," jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Provinsi Lampung, Ferynia menyebutkan, sejarah mencatat tidak satupun negara
yang maju dan tidak ada peradaban yang terhebat sekalipun, kecuali karena
masyarakatnya gemar membaca.

"Untuk itu, kebiasaan gemar membaca hendaknya dilakuan
sejak dini dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat,"kata dia.

Berdasarkan UU 43/2007, peran perpustakaan sangat penting
di dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Dalam peraturan perundangan secara tegas dijelaskan bahwa
masyarakat memiliki hak dalam memperoleh layanan dan mendayagunakan fasilitas
perpustakaan. Pemerintah berkewajiban untuk menggalakkan promosi gemar membaca
dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan.

Tambahnya, budaya literasi perlu dilaksanakan secara
terus menerus agar masyarakat lebih mengenal manfaat dari Perpustakaan.