Jeda Dan Secangkir Asa Dr. Andi Desfiandi, SE, MA


SAYA sempat bertanya dalam hati, kenapa sudah hampir sebulan ini, Dr. Andi Desfiandi, SE, MA belum mengirimkan opininya ke Kantor Berita RMOLLampung.


Biasanya, akademisi yang aktif dalam berbagai kegiatan ini rajin berbagi gagasan tentang berbagai hal yang tengah jadi permasalahan publik lewat rubrik opini.


Di balik penampilannya yang kalem, senyum sejuknya, dan tutur kata santun, pemikirannya kerap meletup-letup yang kemudian ditumpahnya dalam tulisan.


Pernah, suatu hari, baru muncul suatu persoalan, dia ijin untuk mengulasnya. Tak butuh lama, Rektor Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Darmajaya (2006-2015) sudah mengirimkannya ke RMOLLampung.


Selama April hingga Juli 2020, ketua Bidang Ekonomi DPO Bravo Lima ini, sudah mengirimkan delapan artikel. Setiap bulan, rata-rata tiga tulisan, ke Kantor Berita RMOLLampung.


Sungguh produktif dalam menulis untuk seorang yang bejibun kegiatan: Ketua Lembaga Pengembangan Ekonomi NU Lampung,  salah satu ketua DPP Apperti (Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Indonesia).


Lainnya, pegiat Innovator 4.0 Indonesia Xtended Chapter Lampung, penasihat ISEI Lampung, Aptikom Lampung, pembina perguruan bela diri pencak silat Tjakra Sejati dan Kesatria Tarung Sejati (KTS) Lampung, Ketua Dewan Pembina Desindo, dan Himpunan Musisi Lampung.


Dan, entah apa lagi.


Disadari atau tidak, Andi sepertinya persis seperti kata Pramoedya Ananta Toer: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.


Sampai akhirnya, pertanyaan saya terjawab dengan postingannya di WA Grup RMOLLampung, tiga hari lalu. Dia mengirim gambar baru saja menyelesaikan buku bunga rampai pemikirannya yang berserakan di banyak media, dari soal ekonomi, pendidikan, hingga Covid-19.


Judul bukunya sungguh menarik,  "Jeda dan Secangkir Asa". Dari judul dan gambar sampul (cover) buku, siapapun akan sejenak mengawang imajinasinya bak uap asap dari segelas kopi panas.


Imajinasi-imajinasi yang edukatif tentang solusi berbagai persoalan kemasyarakatan itu yang berhasil ditangkap Andi Desfiandi menjadi narasi-narasi yang bisa menjadi alternatif solusi berbagai persoalan rumit kebangsaan.


Sayang memang, pemikiran dan gagasan yang smart akademisi yang pernah terpilih sebagai salah satu dari 75 eksekutif muda versi majalah Warta Ekonomi ininya jika cuma menguap tanpa meninggalkan jejak bila tidak dituliskan dalam sebuah kitab.


Buku ini memang bukan karya ilmiah sebagaimana karya-karya Andi Desfiandi lainnya yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional bereputasi, melainkan bunga rampai buah pikirannya di berbagai media yang disatukan dalam bentuk buku


Namun, dalam setiap tulisannya, saya nyaris tak menemukan kalimat nyir-nyir tentang suatu persoalan. Dia hanya mengungkapkan adanya suatu persoalan yang kemudian ditawarkannya langkah-langkah jalan keluarnya.


Hal itu yang juga dikesannya oleh Menteri Agama RI Jenderal TNI (Purn) Fachrur Razi dan Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio (Guru Besar Universitas Pertahanan Indonesia) terhadap buku Andi Desfiandi yang bersubjudul: Andi Desfiandi, Catatan dan Harapan.


Fachrur Razi, dalam komentar buku, mengatakan Andi Desfiandi terlihat sekali mengikuti isu-isu kekinian. Dalam setiap tulisannya, dia melihat Andi tak asyik-masuk dalam persoalan kontroversialnya.


Dia lebih banyak fokus terhadap aspek urgensi permasalahan yang tengah terjadi berangkat dari bagaimana agar bangsa yang besar dan bermartabat ini bisa mengangkat harkat dan martabat rakyatnya pula.


Yang salah satunya, kata Fahrur Razi, lewat pendidikan yang berkualitas dan berbudaya.


Marsetio, G yang juga mantan Kepala Staf TNI AL 2012-2015 menilai Jeda dan Secangkir Asa karya Andi Desfiandi merupakan sumbangsihnya dalam menyebarkan gagasan dan harapan untuk kemajuan Bangsa Indonesia.


Menurut dua, buku ini laksana oase menyegarkan bagi pembaca yang haus informasi. Semoga komitmen dan konsistensinya Andi Desfiandi tetap terjaga dan terus melahirkan karya karya lainnya untuk kebaikan bangsa dan negara ini, katanya.


Dia menunggu karya-karya Andi Desfiandi berikutnya.


Sayang memang, jika buku "Jeda dan Secangkir Asa" belum ada di deretan koleksi buku Anda.


Yayasan Afian Husin mempersilahkan yang berminat memperkaya khasanah pemikiran sekaligus menyumbang buat upaya mengatasi Covid-19 menghubungi 083160112694 (Lili) dan 082283942704 (Fia).


Selamat Bang Andi, kado HUT ke-75 RI, ditunggu artikelnya.


*Pimred RMOLLampung