Andai Rycko Vs Yusuf, Siapa Yang Menang?


SEBENTAR lagi, semua jawaban pertanyaan seputar pasangan calon yang bakal naik ke gelanggang Pilkada Kota Bandarlampung Tahun 2020 tinggal menunggu hari.

Untuk sementara akhir Agustus ini (31/8), ada tiga kandidat: Eva Dwiana-Dedi Amrullah, Yusuf Kohar-Tulus Purnomo, dan Rycko Menoza yang masih mencari koalisi partai dan wakilnya.

Hasil survey simulasi internal salah satu dewan pimpinan pusat partai terhadap peluang ketiga kandidat adalah Eva 60% lebih, Yusuf 24-25 persen, dan Rycko 10-11%.

Dari ketiganya, untuk sementara, Eva-Dedi sudah direkom 20 kursi: PDIP (9), Nasdem (5), dan PKS (6). Yusuf-Tulus sudah direkom 17 kursi: Demokrat (5), PAN (6), PKB (3), Perindo (2), PPP (1).

Tinggal Rycko Menoza yang masih menunggu koalisi Partai Golkar (6) dan calon wakilnya jelang pendaftaran ke KPU, 4-6 September 2020. Bisik-bisik, bakal deal koalisi dengan Partai Gerindra (7).

Semua bisa berubah, last minute, termasuk koalisi partai, angka hasil survey juga sangat mungkin berubah, masih ada waktu sosialisasi, bagi-bagi sembako, mendekati simpul-simpul suara, merayu rakyat.

Malahan, salah satu dari kandidat tersebut bisa gagal berlayar, calon terkuat sekalipun: Eva Dwiana, pelanjut kepemimpinan suaminya, Wali Kota Bandarlampung Herman HN. 

Untuk mendaftar ikut kontestasi, KPU tidak menerima pencalonan berdasarkan rekom, tapi Formulir B1-KWK Parpol. Nah, formulir itu yang masih ada calon yang belum mendapatkannya.

Hanya Yusuf Kohar-Tulus Purnono (Yutuber) yang sudah siap Formulir B1 KWK Parpol dari lima koalisi parpolnya: PAN, Demokrat, PKB, Perindo, dan PPP.

Eva Dwiana belum, masih bisa rekom diperoleh dari PKS, Nasdem, dan Gerindra (seperti yang beredar di medsos), tapi tak tertutup kemungkinan ada formulir B1 KWK ke Rycko Menoza. 

Soal kenapa pindah, banyak spekulasi. Bisa jadi, setelah istiharah, PKS kurang sreg soal kepemimpinan wanita. Belum lagi, andai kadernya bisa deal jadi wakil Rycko, misalnya kader senior PKS Johan Sulaiman.

Semua kemungkinan bisa terjadi dalam dunia politik sebelum jatuh tempo. Rycko yang sempat tegambui ketika rekom PKS jatuh ke Eva, bisa berbalik kembali ceria.

Jika itu yang terjadi, Eva tak mungkin lagi mempertahankan rekomendasi PDIP. Formulir B1 KWK Partai berlogo banteng moncong ini harus diberikan kepada Rycko atau Yusuf-Tulus. Tulus juga kader senior PDIP.

Semua bisa berubah, walau hasil survey Eva paling unggul, tapi bisa gagal berlayar seperti Frans Agung, putra mahkota petahana pada Pilkada Kabupaten Tulangbawang tahun 2012.

Frans yang digadang-gadang kala itu paling berpeluang ternyata kalah sebelum perang. Last minute, PPP akhirnya pindah ke Hanan A Razak–Heri Wardoyo (Handoyo). Heri masih kerabatnya petinggi Sugar Group.

Cara mengalahkan Eva, jika pilkada dilakukan sekarang, berdasarkan simulasi survei salah satu DPP partai, Eva menang telak. Jaringannya sudah berlapis-lapis di akar rumput.

Pekan lalu, 24 Agustus 2020, orang dekat Eva Dwiana yang juga staf ahli khusus Herman HN, Rakhmat Husein japri saya telah mencium adanya keterlibatan corporate yang akan menguasai Pilwakot Bandarlampung. 

Dia yakin jika nantinya antara Eva Dwiana dan Bung Rycko Menoza salah satu diantaranya tidak bisa maju dalam Pilwakot 2020 karena kurangnya syarat dukungan parpol maka harus jujur tanpa ragu-ragu untuk mengakui bahwa kegagalan tersebut korban corporate tersebut. 

Mantan Kapolda Lampung, Dang Ike Edwin meyakini ada campur tangan ”invisible hand”. Dang Ike menyebut ada upaya sistematis dari sang corporate untuk menjegalnya maju dalam Pilwakot. 

Ada hikmahnya, taruhan Rp100 juta versus bonsai tak mendapatkan kata sepakat antara Rakhmat Husein dengan Supriyadi Alfian, ketua PWI Lampung yang ikut berjasa memenangkan pilihan Sugar Group pada Pilgub Lampung 2014 dan 2018.

Jika tidak, siap-siap ada yang kehilangan Rp100 juta dan bonsai terbaiknya. 

Tapi, jika Eva Dwiana tak ikut kontestasi Pilkada 2020, ada 60 persen masyarakat Lampung saat ini uang berdasarkan hasil survey memilih Eva yang bakal kehilangan demokrasi di Pilkada Kota Bandarlampung. 

Mudah-mudahan itu tidak terjadi, Eva-Dedi tetap maju bersama PDIP-Gerindra-Nasdem, Yusuf-Tulus dengan Demokrat-PAN-PKB-Perindo-PPP, dam Rycko-Johan dengan Golkar-PKS.

Rycko lewat ayahandanya mantan dua periode gubernur Lampung Sjachroedin ZP dan Yusuf Kohar-Tulus Purnomo sama-sama telah menjadi sahabat lama Purwanti Lee, bos Sugar Group tersebut.

Seperti tulisan sebelumnya, Pilkada Kota Bandarlampung menjadi pertarungan ulang antara Herman HM lewat Eva Dwiana dan Sugar Group lewat Rycko dan Yusuf Kohar.

Oke, tetap semangat, cuma kotak-katik kemungkinan, semua bisa berubah, last minute, jaga kesehatan, jangan lupa ngopi tanpa gula biar selalu jantung stabil dan akal selalu sehat.

* penulis