Kadin: Nusantara Supergrid Bisa Membawa Indonesia Jadi Superpower Energi Terbarukan di Asia Tenggara

Ketua Komite Tetap Energi Terbarukan dan Gerakan Net Zero Kadin Muhammad Yusrizki/Net
Ketua Komite Tetap Energi Terbarukan dan Gerakan Net Zero Kadin Muhammad Yusrizki/Net

Semakin besarnya urgensi untuk menanggulangi perubahan iklim, maka akan memperkuat upaya dekarbonisasi atau mengurangi intensitas gas rumah kaca dan transisi energi baru terbarukan (EBT).


Untuk itu, dekarbonisasi akan menjadi isu sentral dan penggerak utama kebijakan, yang berdampak pada perubahan geopolitik.

"Negara-negara lain itu membuang triliunan dolar, miliaran juta euro untuk mengubah, bukan sekadar mengganti sumber energi, tetapi melakukan transisi ekonomi," tutur Ketua Komite Tetap Energi Terbarukan dan Gerakan Net Zero Kadin Muhammad Yusrizki dalam presentasi yang akan disampaikan dalam Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) di Kendari, Selasa (8/2).

Ketika energi fosil tengah populer, muncul istilah petro state, merujuk pada negara-negara yang mengusaha minyak bumi, seperti Arab Saudi, Venezuela, Irak, hingga Iran.

"Namun hari ini, seiring dengan semakin habisnya minyak, petro state memudar. Kita lihat China hari ini menguasai 70 persen dari panel surya. China juga memproduksi lebih dari 60 persen baterai lithium," lanjut Yusrizki.

Hal itu, tambahnya, dilakukan China lantaran mereka menyadari bahwa batubara akan habis. SItuasi ini yang mengubah kekuatan dunia bukan pada petro state, tetapi electro state atau negara yang punya kekuatan elektro/listrik.

"Energi final yang namanya listrik itu akan jadi komoditi ke depan," ucapnya.

Yusrizki menjelaskan, Indonesia sendiri memiliki modal yang sangat besar untuk sumber daya EBT, dengan potensi 3.500 gigawatt. Namun hanya 100 megawatt yang direalisasikan hingga saat ini.

Potensi besar yang dimiliki Indonesia tersebut dapat dijadikan modal sebagai Supergrid untuk menciptakan ketahanan energi yang bersumber pada energi terbarukan.

Terkait hal ini, Yusrizki menyoroti konsep "Nusantara Supergrid". Dengan grid, maka energi yang dihasilkan di satu wilayah dapat disalurkan ke wilayah lain yang kekurangan.

"Kalau Pak Jokowi punya tol laut untuk logistik, ini (Nusantara Supergrid) untuk listrik," pungkasnya.