Kahmi-Komek Unila Ngopii Bahas Optimalisasi Pelabuhan untuk Kesejahteraan Umat

Unit Head of Merak Mas Port, Erika Sudarto/ Repro
Unit Head of Merak Mas Port, Erika Sudarto/ Repro

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Komisariat Ekonomi Universitas Lampung kembali mengadakan Ngobrol Perkara Iman dan Imun (Ngopii) Edisi 19, Jumat (19/11) malam. 


Pembahasan kali ini mengusung tema "Optimalisasi Pelabuhan Dalam Rangka Kesejahteraan Umat" dengan narasumber Unit Head of Merak Mas Port, Erika Sudarto dipandu moderator Wendy Apriyanto. 

Erika mengatakan, setidaknya ada empat fungsi pelabuhan, di antaranya sebagai gateway atau pintu gerbang hinterland dan foreland dan interface yakni antarmuka dari dua moda transportasi yang berbeda yang bertemu di pelabuhan.

Kemudian, fungsi link yaitu bagian dari mata rantai proses transportasi dan distribusi serta sebagai industrial zone atau lokasi industri, pergudangan dan aktivitas logistik. 

Kemudian ada dua jenis pelabuhan yaknj pelabuhan yang diusahakan (penyelenggara : OP atau KSOP) dan pelabuhan yang belum diusahakan (penyelenggara : UPP pemerintah atau UUP Pemda). 

"Bicara pelabuhan ini bicara aturan-aturan, baik aturan lokal maupun aturan internasional," ujarnya. 

Ia memaparkan, kondisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak merata dan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Namun saat ini wilayah di luar Pulau Jawa sudah mulai mengalami pertumbuhan yang signifikan sehingga dibutuhkan sistem logistik yang efektif dan efisien untuk meratakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 

Ia melanjutkan, ada beberapa upaya yang dilakukan pelabuhan untuk berkontribusi terhadap umat yakni dengan memaksimalkan produktifitas dan efektivitas logistik. 

"Kapal dari datang sampai keluar lagi dalam waktu yang sangat singkat, semakin singkat semakin murah, ini dengan bongkar muat," jelasnya. 

Menurut Erik, peningkatan produktivitas bongkar muat dapat mengurangi waktu tunggu kapal dengan cara koordinasi aktor pelabuhan, investasi alat bongkar muat dan investasi infrastruktur. 

Pasalnya, saat kapal menunggu tambatan, mereka tetap mengeluarkan biaya operasional kapal seperti buaya bahan bakar, insurance, gaji crew dan biaya di pelabuhan lainnya. 

"Disiasati dengan bongkar muat dalam 24 jam per hari membuat ship output per day tinggi, performa logistik lebih tinggi dan biaya logistik lebih murah serta daya saing produk meningkat," kata dia. 

Namun, kata dia, ada beberapa permasalahan yang ada, yakni tidak semua bongkar muat 24 jam per hari. Kemudian, mahalnya biaya TKBM jika dibandingkan dengan keahlian dan produktivitasnya, banyak aktor pelabuhan lainnya tidak dapat menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. 

Kemudian, konektivitas ke hinterland yang tidak optimal lebar jalan dan penambahan jalan yang tidak sesuai dengan pertumbuhan kendaraan. 

Serta permasalahan biaya logistik meliputi seluruh instansi pemerintah dan pelaku bisnis lainnya, bukan masalah pengelola pelabuhan saja, pelabuhan hanya merupakan salah satu simpul dalam logistik.