Kahmi-Komek Unila Ngopii Bahas Qadha dan Qodhar 

Ustaz Usman/ Repro
Ustaz Usman/ Repro

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) bersama Komisariat Ekonomi Universitas Lampung kembali mengadakan Ngobrol Perkara Iman dan Imun (Ngopii) Edisi 12, Jumat (1/10).


Pembahasan kali ini mengusung tema "Meluruskan (Kembali) konsep Qadha dan Qodhar".

Salah satu alumni, Ustaz Usman Syarif memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep dalam islam ini. 

Ustaz Usman menjelaskan, qadha merupakan takdir atau ketetapan yang tertulis di lauh al-mahfuz sejak zaman azali. Ketetapan dan ketentuan ini sudah diatur Allah SWT bahkan sebelum Dia menciptakan semesta.

"Jadi Qadha merupakan ketetapan Allah SWT terhadap segala sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi," ujarnya. 

Sementara, qodhar atau takdir adalah ketetapan atau keputusan Allah SWT yang memiliki sifat Maha Kuasa (qudrah dan qadirun) atas segala ciptaan-Nya, baik berupa takdir yang baik, maupun takdir yang buruk.

Qadar sendiri terbagi menjadi dua, yaitu qadar mubram dan kadar mu'allaq. Pertama, qadar mubram adalah takdir mutlak yang tak mungkin berubah. Misalnya, kematian, masa tua, dan lain sebagainya.

Kedua, qadar mu'allaq yang berarti takdir yang dapat berubah dengan doa, usaha, dan ikhtiar yang diupayakan hambanya. Dalil mengenai qadar mu'allaq ini tergambar dalam firman Allah SWT dalam surah Ar-Ra'd ayat 11:

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri," (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)

Namun, lanjutnya, ada tiga golongan mengenai Qadha dan Qodhar. Yakni pendapat Qodariyah dan Mu’tazilah yang berpendapat, bahwa manusia adalah Mukhayyar, yaitu mempunyai kebebasan untuk memilih dan menentukan perbuatannya sendiri tanpa campur tangan dari Allah swt. 

Pendapat golongan Qadariyah dan Mu’tazilah didasarkan pada firman Allah swt. dalam (Q.S. ar-Ra’d [13] : 11)

Kemudian, Pendapat Jabariyah yang berpendapat bahwa, manusia adalah musayyar, yaitu tidak mempunyai kekuasaan untuk mewujudkan keinginannya. 

Golongan ini berpendapat , bahwa manusia terpaksa dalam melakukan perbuatannya atau disebut majbur. Pendapat ii didasarkan pada firman Allah swt. dalam (Q.S. al-Anfal [8] : 17)

Terakhir, Pendapat Ahlussunah wal Jamaah yang menggabungkan pendapat Jabariyah, Qadariyah, dan Mu’tazilah. Ahlussunah wal Jamaah berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia memang telah ditentukan oleh Allah SWT. 

Tetapi manusia juga memilki peran dalam mewujudkan perbuatannya, karena Alah memberikan kasab pada mereka. Menurut Ahlussunah wal Jamaah, yang disebut kasab adalah perbuatan manusia dengan kehendak Allah berjalan beriringan.

Menurutnya, jika manusia tersebut sudah bekerja keras dan berusaha dengan maksimal tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Maka, manusia harus menyadari bahwa ada hal-hal di luar kontrol manusia. 

"Kita perlu pahami, bahwa Allah SWT belum berkehendak dengan hasil tersebut, harus kita terima jika kita mengimani qodho dan qodhar. Karena memang ada yang memang hak prerogatif Allah," kata dia.