Kaji Pengembangan Metropolitan Bandar Lampung Raya, Itera Gandeng Pemda

webinar bertajuk tantangan dan menajemen pengembangan Metropolitan Bandar Lampung Raya/ Repro
webinar bertajuk tantangan dan menajemen pengembangan Metropolitan Bandar Lampung Raya/ Repro

Institut Teknologi Sumatera (Itera) menggagas kajian pengembangan kota metropolitan Bandar Lampung Raya atau Balamea Pringtata (Bandar Lampung, Metro, Kalianda, Pringsewu dan Gedungtataan) dengan Pemerintah Provinsi Lampung dan tiga pemerintah kabupaten/kota. Kajian ini menjadi wujud kontribusi Itera dalam membangun kota yang ada di Sumatera, khususnya Lampung.


Pengkajian Balameka Pringtata tersebut dikemas dalam webinar bertajuk tantangan dan menajemen pengembangan Metropolitan Bandar Lampung Raya. Kegiatan itu diikuti oleh Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona, Kepala Bappeda Provinsi Lampung A. Lianurzen, Kepala Bappeda Kota Bandar Lampung Khadidarmansyah, Kepala Bappeda Lamsel Aryan Saruhian, dan Ketua Apindo Lampung Ary Meizari secara daring, Kamis (24/3). 

Rektor Itera, Prof Mitra Djamal mengatakan kota metropolitan disebut sebagai suatu konsep pembangunan wilayah perkotaan lintas batas dengan wujud fisik yang melampaui batas administrasi kota utama, dan memberikan pengaruh pada daerah administrasi disekitarnya. Sehingga pembangunan kawasan metropolitan perlu persiapan dan perencanaan yang matang dari daerah yang berkaitan. 

“Sebab jika tidak dipersiapkan maka bisa jadi perkembangan yang terjadi tidak terarah dan tidak akan menimbulkan masalah tata ruang di kemudian hari. Sehingga hal ini sejalan dengan visi Itera yang akan memandu perubahan dengan memberdayakan potensi yang ada di Sumatera,” kata Prof Mitra Djamal. 

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Bandar Lampung, Khaidarmansyah mengatakan Bandar Lampung sudah menjadi metropolitan, karena jumlah penduduknya lebih dari 1.183.000 jiwa dan tidak hanya berasal dari Bandar Lampung namun juga berasal dari berbagai daerah tetangga. 

"Dalam menyikapi fenomena ini Pemerintah Kota Bandar Lampung terus merencanakan tata ruang dan wilayah kota sehingga menjadi kota perdagangan dan jasa," kata Khaidarmansyah. 

Kemudian, Kepala Bappeda Provinsi Lampung, A. Lianurzen menggarisbawahi, untuk mengembangkan kawasan metropolitan baru Bandar Lampung Raya perlu adanya penyatuan persepsi antar wilayah. 

"Sehingga akan terbentuk kawasan metropolitan yang terencana dalam sebuah konsep tata ruang," ujarnya. 

Lalu Staf Ahli Rektor Itera yang juga Guru Besar ITB, Prof Deny Juanda menyampaikan di Provinsi Lampung sebetulnya metropolitan sudah terbentuk, tinggal sekarang distrukturkan. 

"Dalam Metropolitan ada dua tipe, yaitu top-down dan bottom up. Lampung sendiri sudah tergolong kota maju tergolong bottom up, sehingga perlu adanya deklarasi dari Gubernur dengan harapan konsep metropolitan yang dimaksudkan dapat terarah," jelasnya.