Keluhan Nelayan Pesawaran, Kenaikan BBM Tak Sebanding Hasil Tangkapan

Ilustrasi nelayan/ RMOLLampung
Ilustrasi nelayan/ RMOLLampung

Sejumlah nelayan pesisir Kabupaten Pesawaran, merasakan dampak dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).


Raudin salah satu nelayan Desa Durian Kecamatan Padang Cermin mengatakan, pasca kenaikan harga BBM ini para nelayan terkena imbas karena ada biaya tambahan ketika nelayan melakukan aktivitas tangkap ikan dengan menggunakan kapal. 

"Sangat berdampak, karena setiap kami ingin berangkat mencari ikan menggunakan BBM, sedangkan biaya pengeluaran berbanding terbalik dengan hasil tangkapan ikan yang tidak menentu, kemudian harga jualnya juga tidak sepadan," kata Raudin, Selasa (13/9).

Dikatakannya, selain keberatan dengan kenaikan harga BBM, banyak nelayan yang mengalami kesulitan memperoleh BBM, padahal, BBM menjadi salah salah satu komponen utama untuk biaya operasional dalam melaut.

"Dengan kondisi seperti itu, para nelayan menjadi kesulitan melaut, mau kita naikan harga ikannya daya beli masyarakat berkurang, karena hasil tangkapan kita ini hanya di jual kepada masyarakat sekitar desa saja," ujarnya.

"Dalam sehari para nelayan yang menggunakan bagan bisa menghabiskan 60 liter solar dalam sehari, sedangkan para nelayan yang menggunakan kapal kecil menghabiskan 5-10 liter pertalite saat mencari ikan ke tengah laut," kata dia.

Ia mengatakan, sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah yang spesifik bagi para nelayan yang ada di Kabupaten Pesawaran.

"Kalau bantuan bagi nelayan memang belum ada, harapan kami agar pemerintah dapat memberikan bantuan, sehingga bisa meringankan beban para nelayan, kemudian kami berharap juga ada pom bensin di daerah pesisir yang menjual BBM hanya untuk para nelayan," pungkasnya.