Kepala Otoritas IKN: Ketangguhan Sektor Informal Perlu Mendapat Perhatian Lebih Besar

Kepala Otoritas IKN Nusantara, Bambang Susantono, (ketiga dari kiri) dalam peluncuran buku Informal Services in Asian Cities: Lesson for Urban Planning and Management from the Covid-19 Pandemic” yang diluncurkan di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali/ RMOL
Kepala Otoritas IKN Nusantara, Bambang Susantono, (ketiga dari kiri) dalam peluncuran buku Informal Services in Asian Cities: Lesson for Urban Planning and Management from the Covid-19 Pandemic” yang diluncurkan di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali/ RMOL

Ketangguhan sektor informal kembali menyelamatkan banyak negara di tengah kelesuan ekonomi yang terdampak badai pandemi Covid-19.


Dalam setidaknya dua tahun terakhir, pembuat kebijakan di banyak negara pun kembali menyadari betapa sektor informal sangat menentukan kemampuan masyarakat memitigasi dampak krisis.

Demikian antara lain pelajaran penting yang dapat dipetik dari buku “Informal Services in Asian Cities: Lesson for Urban Planning and Management from the Covid-19 Pandemic” yang diluncurkan di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Kamis (1/9).

Buku setebal hampir 400 halaman yang diterbitkan Asian Development Bank (ADB) dan ADB Institute (ADBI) ini berisi pengalaman sejumlah negara di Asia, seperti Indonesia, Filipina, Bangladesh, dan Kamboja. Peluncuran buku ini merupakan kerjasama ADB, ADBI, Badan Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Lebih dari 20 periset yang menyumbangkan hasil peneltian di damal buku itu berasal dari berbagai institusi seperti ADD, University of Hawaii at Manoa (UHM), Seoul National University (SNU), Hong Kong University of Science and Technology, Waseda University, North South University, dan University of Illinois at Urbana-Champaign.

Adapun editornya adalah Ashok Das dari UHM dan Kepala Badan Otorita IKN Nusantara, Bambang Susantono, yang sebelumnya merupakan Wakil Presiden ADB.

Bambang Susantono yang memberikan pengantar dalam peluncuran buku mengatakan, walau terlihat kokoh, namun sektor formal rentan terhadap berbagai krisis seperti di masa pandemi Covid-19 yang lalu dimana krisis kesehatan bergerak menjadi krisis ekonomi.

Sebaliknya, sektor informal yang pelaku utamanya adalah kalangan masyarakat bawah ternyata lebih memiliki kemampuan untuk bertahan dalam situasi krisis.

“Penelitian dari buku ini mendorong lembaga pemerintahan, pengambil kebijakan, dunia akademik untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada sektor informal,” ujar Bambang.

Sementara Chief of Economist ADB, Albert Park, yang memberikan sambutannya secara virtual mengatakan, studi yang dilakukan di banyak negara terutama yang dirangkum di dalam buku ini memperlihatkan betapa sektor informal sesungguhnya merupakan bagian dari solusi, dan sama sekali bukan bagian dari persoalan.

Dia mendorong agar ketangguhan sektor informal ini mendapatkan perhatian dan dipelajari dengan sungguh-sungguh agar dapat menular ke sektor formal.

Albert Park juga mengatakan, hasil berbagai studi di dalam buku ini juga akan sangat berguna bagi kota-kota lain di dunia, termasuk bagi IKN Nusantara yang sedang disiapkan di Kalimantan Timur.