Kepemimpinan Cendekia: Syiar, Ikhtiar dan Doa

Ngopii Edisi 14
Antoni Ludfi Arifin/Repro
Antoni Ludfi Arifin/Repro

Kembali Ngobrol Perkara Iman dan Imun (Ngopii) edisi 14, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Komisariat Ekonomi Universitas Lampung kali ini mengangkat tema "Kepemimpinan Cendekia". 


Ngopii malam ini bersama dosen dan praktisi sumber daya manusia, Antoni Ludfi Arifin yang dipandu oleh Chara Pratama Tidespania Tubarat. 

Antoni mengatakan kepemimpinan cendekia merupakan salah satu judul buku yang ia buat. Ide muncul pada akhir 2000, saat membaca buku ciri-ciri kepemimpinan Rasulullah, gaya kepemimpinan berbagai tokoh luar, dan ia tertarik untuk membuat buku kepemimpinan tokoh lokal. 

"Saya formulasikan dengan gaya penulisan yang berbeda-beda. Penulisannya juga tidak argumentatif namun dengan kajian dan 50 bahan bacaan yang digunakan sebagai referensi buku ini," kata Antoni, Jumat (15/10). 

Asal usul kepempimpinan, kata Antoni ada tiga yakni genetis (keturunan), sosial (muncul akibat desakan sosial), dan ekologi (organisasi atau pendidikan yang melatih untuk menjadi pemimpin). 

"Tiga asal usul tersebut dikemukakan oleh Kartono pada tahun 1998," ujarnya. 

Menurutnya, pemimpin adalah seorang yang ide serta perbuatannya bisa mempengaruhi perilaku orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Sementara cendekia berdasarkan KBBI yakni tajam pikiran, lekas mengerti, cerdas dan pandai. 

"Kepemimpinan Cendekia yakni syiar, ikhtiar dan doa menuju Indonesia Emas. Dalam syiar (kemuliaan) pemimpin harus memiliki rasa syukur, Istikomah, amanah, dan refleksi diri," jelasnya. 

Sementara, dalam ikhtiar pemimpin harus punya integritas, tetap berkolaborasi, rendah hati, bijaksana, menginspirasi orang lain, tangkas atau lincah dalam mengambil keputusan, dan menghormati.

Misalnya sikap menghargai ditunjukkan oleh Hamka dan Soekarno, walaupun mereka banyak berbeda pendapat namun mereka tetap bersahabat. 

"Lalu doa itu ada tiga unsur yakni membangun mimpi, bisa membaca peluang walaupun dalam kondisi terhimpit, dan percaya diri," ujarnya. 

Lanjutnya, seperti filsafat hidup ikan Salmon, ia memiliki misi menjadi ikan yang unggul dibandingkan ikan lele. Dalam visinya ia harus mempertahankan generasinya 3-8 ribu butir telur, dengan siklus hidup sungai, laut dan kembali ke sungai.

"Nilai yang diambil dari ikan salmon tersebut yakni disiplin, pantang menyerah, rela berkorban dan teamwork. Begitu juga ketika ingin menjadi pemimpin, unsur dalam syiar, ikhtiar dan doa harus dilakukan. Hal yang belum biasa dilakukan pasti berat, namun hal itu bisa menjadi kebiasaan setelah 66 hari dijalankan," jelasnya.