Ketika Mbak Pur Memutuskan


Mengelilingi meja makan, pria berbadan tegap yang belakangan diketahui sebagai pengawal Guntur, memberikan satu persatu kantung yang dibawanya. Pertama diberikan pada Nusahid, lantas Aryanto, kemudian kepada Bobby, terakhir kepada Kahar. Usai berkeliling meja, sang pengawal langsung keluar ruangan.
'
Sekadar oleh-oleh buat anak-anak di rumah. Atas waktu bapak-bapak yang saya sita, sehingga terlambat pulang" ujar Guntur.

Malam menemui asanya. Tak lama, pertemuan usai. Secara bergilir mereka' meninggalkan ruangan. Satu persatu.

Nusahid menjabat tangan Juned, dia berucap:"Kita komunikasikan segera. Nomor kontak berapa?"

Siap," balas Juned sembari menyebutkan nomer telponnya 0812xxxxxxx. Nusahid langsung menyimpan didalam daftar kontak.

Ditengah tapakan langkahnya turun ke lobby, sengaja Juned tidak menggunakan lift, wajahnya sumringah. Tentu teringat pembicaraan bersama Mbak Pur di Senayan City, tiga hari lalu.

Situasi ini membuat saya penasaran untuk bisa melakukan wawancara langsung dengan Mbak Pur. Begitu banyak hal yang harus digali lebih jauh. Mulai dari soal pemicu yang membuat Mbak Pur sampai mengakusisi partai politik, hingga berapa persen saham yang dibeli? Apa yang ingin diperbuat setelah Juned menjadi Ketua? Tentu juga soal mengapa Mbak Pur sampai begitu kecewa terhadap Ronald.

Sembari menanti konfirmasi waktu wawancara dengan Mbak Pur, pikiran saya membayangkan banyak wajah yang marah bila mengetahui betapa ganasnya kendali uang dalam menciptakan boneka-boneka kekuasaan, khususnya di kawasan Pabrik Permen. Simak pada Eisode: Ketika Mbak Pur Patah Arang. (d)

PENULIS: YUSUF YAZID



Berita Sebelumnya

Bravo Lima