Ketika Mbak Pur Menjajah


Sebenarnya
tak perlu begitu terkejut. Syahwat kekuasaan Mbak Pur berjalan seiring dengan
kesuksesannya menyiasati bisnis Pabrik Permen. Kucuran dana keuntungan yang
digenggam Mbak Pur, tentu saja membuat ngiler para elit partai. Tak peduli
dengan runtuhnya harkat dan martabat 
partai. Apalagi ingin membela nasib warga yang menjadi konstituen mereka
di sekitar Pabrik Permen yang sudah menderita puluhan tahun.

Tak
berhenti hanya sebatas merampok Partai Go-Kart yang kini digenggam
Juned.Syahwat Mbak Pur dan Guntur terus bergelinjang. Cengkraman Mbak Pur terus
menusuk jantung dan memporakpandakan pertahanan elit-elit partai. Namun tekad
Mbak Pur ingin menguasai seluruh partai, ternyata gagal total. Masih ada partai
yang tak silau dengan tumpukan uang haram yang jumlahnya ratusan miliar.

Kini,
diluar Partai Go-Kart yang sudah tergadai, Mbak Pur i berhasil memeluk elit
Partai Gergaji, Partai Kutu Busuk, dan Partai Anak Nakal. Mereka tidak peduli
kalangan akar rumput partai porak poranda, seperti Partai Go-Kart.

Guna
memperluas daerah jajahannya, Mbak Pur pun memainkan perangkap buat Mustajab.
Partai Hati yang Luka, melalui elitnya sudah memutuskan mendukung Mustajab
berpasangan dengan Hasan Hasan. Nanti, diujung pencalonan akan di bom Mbak Pur,
dan bubar.

"Kamu
jangan capek-capek dong," ungkap Mbak Pur.

"Kalau
mau jadi Gubernur, ya harus capek,"jawab Juned.

"Kalau
kamu capek, aku kan ikut capek,"balas Mbak Pur.

"Terus
gimana dong,"ujar Juned.

Nun
di ujung sana, para politisi berbincang dengan serius, hingga lupa menyeruput
kopi. Mereka sibuk berdiskusi tentang peluang para cagub yang akan turut serta
dalam kontestasi. Mereka berdebat dengan mengacu atas hegemoni kapitalisme yang
dipertontonkan Pabrik Permen.

"Sekarang
Mbak Pur sudah mencengkram aspek politik," ujar Mat Raji.

"Bukan
hanya itu. Aspek ekonomi, sosial, dan juga HAM sudah dikangkangi," timpal Raden
Jambat.

"Sudah
lengkap mereka menjajah kita. Bagaimana lagi. Elit-elit partai tak bisa menolak
bujuk rayu dan ancaman Mbak Pur," keluh Raden Simah.

"Warga
di kawasan Pabrik Permen tidak bisa berbuat banyak. Yang masuk bui banyak.
Kalau yang mati, juga tidak terhitung lagi karena mempertahankan hak milik
mereka. Warisan nenek moyang mereka," sergah Mat Raji.

"Partai
yang jadi harapan kita, sudah selingkuh dengan konstituennya. Jangankan mau
peduli dengan warga di sekitar Pabrik Permen, kawasan pun mereka akan jarah.
Uang mereka hambur-hamburkan. Mbak Pur tak peduli soal itu. Berapapun mereka
gelontorkan, yang penting kekuasaan ada ditangan Pabrik Permen," kata Raden
Jambat dengan nada kelu.

"Mbak
Pur dan Guntur itu sudah seperti tuhan," Raden Simah menambahkan.

"Semua
sudah masuk dalam jeratan kapitalisme. Ini bentuk penjajahan gaya baru. Mbak
Pur memperluas wilayah jajahannya," kata Raden Jambat.

"Lihat
saja, Ronald yang begitu setia, dipermalukan. Dihabisi agar tak bisa ikut
kontestasi. Mereka beli partai. Orang-orang partai diadu domba tanpa ada
kesadaran akan tanggungjawab mereka kepada rakyat," ujar Mat Raji.

"Percayalah.
Elit partai yang dibeli Mbak Pur, pasti akan menemukan kesadarannya. Ini soal
waktu saja. Allah SWT tidak akan membiarkan kezholiman,"ujar Raden Simah
mengingatkan.

"Kita
lihat saja nanti. Apa yang sudah digenggam mereka akan buyar. Baik yang
digenggam Juned maupun Mustajab," ujar Raden Simah mengingatkan.

"Pilgub
kali ini akan diikuti tiga pasang. Walau Mbak Pur berlaku seperti tuhan, tak
akan bisa membendung. Allah SWT punya kuasa," timbal Mat Raji.

"Mat,
kog bisa begitu?" tanya Raden Jambat pada Mat Raji.

"Bisa
saja. Mbak Pur menzholimi Ronald sudah melampaui batas. Biasanya orang yang
dizholimi akan muncul kepermukaan. Elit partai juga dibuatnya terhina karena
uang. Allah SWT tak akan membiarkan kesewenang-wenangan Mbak Pur," timpal Mat
Raji.

"Siapa
saja?" tanya Raden Jambat.

"Juned,
Ronald, dan Hermanus," jawab Mat Raji meramal.

"Mustajab
?" kejar Raden Jambat.

"Ya
tidak kemana-mana," ujar Mat Raji sembari menyerubut kopi dinginnya.

"Ah,
sampean ini ada-ada saja," kata Raden Simah.

"Siapa
yang jadi Gubernur nanti?" kejar Raden Jambat.

"Yang
jelas, bila partai pengusungnya diperoleh dengan cara mengadu domba rakyat dan
zholim seperti yang dilakukan Mbak Pur, tidak bakal jadi," ujar Mat Raji.

"Sampean
yakin sekali?" ujar Raden Simah memotong.


"Pemilih sudah tahu, Juned itu bonekanya Pabrik Permen yang ingin menjajah kita.Surveynya saja nomor buncit," tutup Mat Raji sembari ngeloyor pamit. (d)