Ketua LBH Pro Yustisia Jadi Korban Penganiayaan

olisian.  Rendica Roverta mengalami luka pada leher yang langsung divisum di RSUDAM/Ist
olisian. Rendica Roverta mengalami luka pada leher yang langsung divisum di RSUDAM/Ist

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Pro Yustisia, Rendica Roverta menjadi korban penganiayaan, ancaman kekerasan, dan percobaan pembunuhan yang dilakukan DD, tetangganya di Perumahan Bukit Kemiling Permai Blok P RT 12 Kemiling, Bandarlampung.


Perkara ini sudah dilaporkan ke Polresta Bandarlampung dengan Laporan Polisi Nomor: LP/B-1/414/II/2021/LPG/SPKT/RESTA BALAM yang dilaporkan pada Rabu (17/2) malam.

Kuasa Hukum korban, Supriyanto mengatakan, korban dianiaya dan hampir terkena tikaman senjata tajam oleh pelaku DD pada Rabu malam dan langsung dilaporkan ke pihak kepolisian. 

Akibat peristiwa itu, korban mengalami luka pada leher yang langsung divisum di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM).

Supriyanto juga mengatakan, kejadian ini berdampak terhadap psikologi anaknya yang masih kecil yang kebetulan melihat dan mendengar peristiwa tersebut.

Menurut Supriyanto, kejadian berawal dari kekesalan pelaku kepada korban yang ingin memaksakan korban agar menjadi saksi yang mendukung laporan polisinya di Polsek Tanjungkarang Barat. 

"Namun permintaan pelaku itu, korban tolak karena tidak sesuai fakta hukum," ujarnya, Kamis (18/2).

Lanjut Supriyanto, pelaku sudah tiga kali mencoba berusaha mencelakai korban. Pertama, pelaku pernah menghalangi laju kendaraan mobil korban bersama anak dan istrinya dengan mobil pelaku di jalan gang depan rumah pelaku. 

Sebelum kejadian malam hari tersebut, pada pagi hari korban sempat meneriaki korban di depan rumah korban dengan perkataan kotor yang coba memancing emosi korban.

"Pelaku berteriak dengan mengatakan kurang ajar kamu ya," ungkap pengacara korban.

Hingga Rabu malam, pelaku membawa senjata tajam menghampiri korban untuk berusaha melukai dengan mencekik dan mencoba mengayunkan senjata tajamnya kepada korban. Namun hal itu gagal dilakukan.

"Kami meminta kepada aparat penegak hukum agar mempercepat proses penanganan perkara dan pelaku segera ditangkap dan ditahan. Ini ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara,"kata dia.