Koalisi Parpol 2024 Berpotensi Mogok di Tengah Jalan

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar/Net
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar/Net

Pembentukan koalisi partai politik dalam menatap pemilihan presiden 2024 berpotensi mogok di tengah jalan jika penjajakan politik terlalu lama.


Baik Koalisi Indonesia Raya (KIR), Poros Perubahan, maupun Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) sejatinya sudah menghasilkan kesepakatan di antara parpol koalisi.

Namun seiring berjalan, kesepakatan bisa saja goyang dengan penjajakan-penjajakan lintas partai.

"Koalisi yang sudah terbentuk berpotensi besar mogok di tengah jalan. Banyaknya rayuan dalam penjajakan politik bisa mengganggu kesepakatan politik yang sudah terbentuk.

"Misalnya rayuan elektabilitas menjadi penyebab koalisi mogok atau pindah haluan ke koalisi lain. Jika tidak segera deklarasi, akan berpotensi koalisi deklarasi capres dan cawapres last minutes. Koalisi yang sudah terbentuk pun berpotensi mogok," kata pengamat politik Ikhwan Arif dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Senin (28/11).

Ketiga koalisi di atas, sejatinya sudah memenuhi ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold 20%). Namun demikian, KIB yang dibentuk Golkar-PPP-PAN, KIR oleh Gerindra dan PKB, serta Poros Perubahan dengan Demokrat-PKS-Nasdem masih bergantung pada nilai elektabilitas figur.

"Pun demikian dengan PDIP yang bisa mengajukan calon sendirian. Tokoh dengan elektabilitas tinggi masih jadi rebutan koalisi," sambungnya.

Oleh karenanya, rayuan elektabilitas bakal calon presiden masih menjadi penentu keseriusan partai politik dalam berkoalisi.

"Komposisi koalisi yang kini sudah terbentuk memang sudah memenuhi presidential threshold 20%, namun masih terkendala elektabilitas tokoh di luar koalisi," tutup pendiri Indonesia Political Power ini.