Komisi II Soroti Limbah Cemari Sawah Petani Pringsewu

Maulana M Lahuddin/ Nurul Ikhwan
Maulana M Lahuddin/ Nurul Ikhwan

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pringsewu, Maulana M Lahuddin, menyoroti limbah sampah di Pekon Bumi Arum yang mencemari sawah petani selama bertahun-tahun. 


Pasalnya, petani sawah di Pekon Bumi Arum  mengeluh karena sejak sawah mereka tercemar air limbah yang bersumber dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) milik Pemkab Pringsewu hanya bisa panen padi satu sekali setahun. 

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga menyayangkan sikap Pemkab Pringsewu yang selama ini diam belum merevitalisasi embung yang ada di TPAS tersebut. 

"Kami sangat menyayangkan sikap Pemerintah Pringsewu terhadap petani sawah Pekon Bumi Arum yang selama ini mengeluh karena ada nya pencemar air limbah kesawah mereka," kata Maulana kepada Kantor Berita RMOLLampung saat diminta tanggapan melalui sambungan telepon, Senin (3/1). 

Dia berjanji, dalam waktu dekat ini anggota DPRD yang bernaung di Komisi II akan melihat langsung atau akan melakukan peninjau kelokasi tepatnya bertemu langsung kepada para petani yang sawahnya terdampak air limbah. 

"Kita akan meninjau langsung kelokasi air limbah itu dan kita akan menemui petaninya untuk mendengarkan langsung keluhan mereka," ujarnya. 

Kemudian maulana mengatakan mendorong Pemkab dalam pembangunan terutama pembanguan revitalisasi embung yang ada di Pekon Bumi Arum tersebut. Supaya keluhanan para petani selama bertahun tahun bisa teratasi. 

"Kami mendorong pemerintah supaya segera merevitalisasi embung TPAS.Agar petani bisa panen secara normal dan bisa membangkitkan kembali perekonomi para petani itu" pungkasnya. 

Sebelumnya, petani di Pekon Bumiarum Kecamatan Pringsewu gelisah pasalnya lahan pertanian yang mereka garap selama lima tahun terakhir tercemar limbah yang dihasilkan TPAS yang berada di Pekon setempat.

Alhasil lahan yang biasanya dalam setahun mampu 2 kali masa tanam, sekarang hanya bisa ditanam 1 kali dalam setahun. Itu pun hasil produksi gabahnya tidak sebaik tahun tahun sebelumnya. 

Saat ini, ada sekitar 5 hektar sawah terdampak oleh limbah TPAS yang digarap oleh sekitar 20 petani yang berdomisili di Bumiarum, dan kemungkinan bisa bertambah.