Kongkalikong Korupsi dan Beri Benih Jagung Kualitas Buruk, Negara Rugi 7,5 Miliar

Suasana sidang/Faiza
Suasana sidang/Faiza

Dua tersangka kasus korupsi benih jagung pada Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI yang dialokasikan untuk Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2017 akhirnya menjalani sidang dakwaan, Rabu (13/10).


Keduanya, yakni Mantan Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Lampung Edi Yanto, dan Direktur PT Dempo Agro Pratama Inti, Imam Mashuri. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Vita Hestiningrum dalam dakwaannya menjelaskan, Lampung mendapat bantuan pengadaan benih jagung senilai Rp145,6 miliar untuk ditanami jagung dengan luasan lahan 189.720 hektar.

Pada awal tahun 2017, terdakwa Edi Yanto memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Herlin Retnowati (meninggal pada proses penyidikan), untuk memberikan pengadaan kepada terdakwa Imam Mashuri Direktur PT Dempo Agro Pratama Inti untuk pengadaan benih jagung hibrida Balitbangtan. 

Padahal perusahaan tersebut tidak tercantum dalam daftar 16 produsen benih jagung hibrida di Lampung tahun 2017 dari UPTD balai pengawasan dan sertifikasi benih ( BPSBTPH) Lampung. 

Di mana, PT Dempo merupakan perusahaan yang memiliki kualifikasi pengadaan benih padi, jagung jagung. Kemudian, Edi menambahkan 4 perusahaan dalam daftar tersebut yakni CV. Karya sentosa makmur, PT. Harmoni Global Lestari, CV. Bintang Tani Dirgantara dan PT. Dempo Agro Pratama Inti sehingga jumlahnya menjadi 20.

Akibatnya, tahap I, PT Dempo yang diharuskan memberi 100.125 benih jagung Hibrida Balitbangtan Varietas Bima 20 Uri dengan nilai kontrak Rp3,5 Miliar. 

Namun, Imam malah membeli benih tersebut dengan rincian, 10.800 kg dari PT. Esa Sarwaguna Adinata dan 89.000 benih dibeli dari Free market yang sudah kedaluarsa dan tidak diketahui mutu dan kualitas benihnya. 

"62.000 kg dibeli dari Free market di Jember Jawa Timur, 28.000 kg dibeli dari Free market di Jawa barat dan Palembang, sehingga tidak sesuai dengan surat perjanjian kerja tapi terdakwa (Edi Yanto) telah melakukan pembayaran 100 persen," jelasnya.

Kemudian, untuk pengadaan tahap III, Imam Mashuri seharusnya mengadakan benih jagung Hibrida Balitbangtan Varietas Bima 20 Uri sebanyak 300.000 kg, dengan nilai kontrak Rp10,5 Miliar. 

Namun, hingga batas kontrak habis, Imam hanya mengadakan 57.000 kg benih yang dibeli dari PT. Esa Sarwaguna Adinata dan 243.000 kg dibeli dari Free market. 

"Di mana, 200.000 kg dibeli dari Free Market di Jember Jawa Timur, namun tetap dibayarkan 100% dengan dua tahap," tambahnya. 

Sehingga, dari hasil audit akuntan publik, terdapat kerugian negara Rp7,5 miliar. Rinciannya, pada tahap I dari Anggaran Rp3,5 Miliar terdapat kerugian Rp3,3 Miliar. Sementara pada tahap II dengan nilai anggaran Rp10,5 Miliar terdapat kerugian negara Rp4,2 Miliar. 

Keduanya didakwa melanggar pasal Pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 Jo Pasal 18 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Usai persidangan, masing-masing terdakwa akan mengajukan eksepsi pada sidang selanjutnya yang digelar Kamis 21 Oktober 2021.