Kurang Gereget, Debat Publik 1 Cawakot Bandarlampung

Dedy Hermawan
Dedy Hermawan

Akademisi Universitas Lampung (Unila) Dedy Hermawan menilai debat publik pertama calon wali Kota Bandarlampung yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat kurang gereget.


“Saya mengamati dari awal sampai akhir, secara umum geregetnya masih kurang. Belum kena dengan subtansi dalam kata debat,” kata Dedy Hermawan

Dedy Hermawan mengatakan, dalam perdebatan seharusnya ada adu argumentasi, data, analisis, strategi, dan adu paradigma pembangunan serta kesejahteraan.

“Seharusnya ada itu  dan debat kali ini belum terlihat, masih kering, masih banyak tanya jawab antar pasangannya atau antar kandidat,” ucapnya.

"Mungkin itu akibat dari lemahnya desain debat yang terlalu birokratif dan prosedural. Sehingga kurang kebebasan mengekspresikan pendapat dari masing-masing kandidat,” terangnya.

Ia menambahkan soal materi debat, secara umum konsentrasinya soal ekonomi. Namun tidak digali secara dalam. 

“Dan untuk data kemiskinan, UMKM basis datanya masih  lemah. Mungkin ini juga dampak dari format acara yang terlalu kaku dan posisi duduk para kandidat menurut saya kurang interaktif terlalu formal dan kaku,” ujarnya, Kamis (15/10).

"Saran saya penyelenggara mencontoh acara serupa yang siring muncul di layar televisi. Contoh Mata Najwa, formatnya lebih interaktif sehingga bisa adu gagasan dan adu data,” tuturnya.