Lampung (Belum) Berjaya (3)


Pilar Lingkungan

Semangat saya untuk membahas pilar terakhir ini seketika menurun begitu membaca halaman ke-49 bahan paparan gubernur. Ada infografis tentang Indeks Resiko Bencana (IRB), mestinya narasi yang ditulis jangan terkesan membanggakan kenaikan indeks karena itu super konyol.

IRB ini berbeda dengan IPM, jika IPM makin naik semakin baik maka IRB makin naik semakin buruk karena berarti resiko bencananya semakin besar. Mestinya staf penyusun bahan paparan ini menuliskan narasi bahwa IRB Lampung tahun 2020 walaupun belum dapat diturunkan tetapi setidaknya masih dapat dicegah kenaikannya, tidak seperti tahun 2019 yang naik tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Kita akan membahas tentang kerusakan lingkungan, illegal logging dan illegal mining beserta dampaknya pada tulisan yang lain, kali ini saya akan merujuk pada Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK. 1370/MENLHK/ SETJEN/KUM.1/12/2021 tentang Hasil Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun 2020-2021 yang dapat diunduh di tautan https://proper.menlhk.go.id/proper/berita/detail/348. Kita akan lihat seperti apa pengelolaan lingkungan hidup perusahaan-perusahaan besar di Lampung karena itu juga cukup menggambarkan kemampuan dan keberpihakan pemerintah daerah pada sektor lingkungan.

Ada 47 perusahaan besar yang mendapat kategori terbaik yaitu kategori “emas”, PT Bukit Asam Unit Pelabuhan Tarahan menjadi satu-satunya perusahaan di Lampung yang memperoleh kategori ini. Sedangkan pada kategori “hijau” yang diberikan kepada 186 perusahaan besar, hanya ada dua perusahaan di Lampung yang mendapatkannya, PT Pertamina Geothermal Energy Ulu Belu dan PT Pertamina MOR II Pelabuhan Panjang.

80 perusahaan besar di Lampung lainnya termasuk Sungai Budi Group, Sugar Group Companies dan Great Giant Pinneaple hanya masuk kategori yang biasa-biasa saja, kategori “biru” yang hanya setingkat lebih baik daripada kategori “merah”. Ada 1.670 perusahaan besar secara nasional yang masuk kategori ini.

645 perusahaan masuk ke dalam kategori buruk berlabel “merah” dan ternyata ada empat perusahaan di Lampung yang masuk kategori memalukan ini. PT Sinar Pematang Mulia II pabrik tepung di Lampung Tengah, PT Fermentech Indonesia pabrik MSG di Lampung Timur, PT LDC Indonesia pabrik Olekimia Dasar di Bandar Lampung dan PT Huma Indah Mekar (HIM) pabrik dan perkebunan karet di Tulang Bawang Barat. PT HIM sendiri sedang menghadapi persoalan hukum terkait gugatan masyarakat adat terkait kepemilikan dan penggunaan lahannya.

Dengan hanya tiga perusahaan yang masuk kategori baik dan ketiganya BUMN kemudian masih ada empat perusahaan masuk kategori buruk, saya kira belum cukup terlihat upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah di Lampung dalam mendorong dan memaksa perusahaan-perusahaan besar memperbaiki pengelolaan lingkungan hidup pada lingkup area usaha mereka.

Catatan Akhir

Sebuah harian cetak di Lampung pada tanggal 28 November 2021 kemarin memberi judul bombastis pada berita yang menjadi tajuk utamanya; “Investasi Lampung Melesat”. Saya kemudian melakukan tabayyun dengan membuka data pada laman NSWi (National Single Windows for investment) milik Kementerian Investasi Indonesia dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk mengetahui apakah benar berita tentang melesatnya investasi Lampung itu.

Dari data yang saya lihat di tautan https://nswi.bkpm.go.id/data_statistik, saya berusaha membandingkan besaran investasi di Lampung tahun 2021 ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dan dengan provinsi lainnya di Sumatera agar lesatan yang dimaksud oleh harian cetak itu dapat saya fahami. Investasi yang saya cek kedua-duanya, baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA).

Dibandingkan tahun 2020, ternyata investasi di Lampung pada tahun 2021 justru menurun. Jika sebelum nya sebesar 14,27 triliun rupiah (7,12 triliun PMDN + 7,15 triliun PMA), maka di tahun 2021 menurun menjadi hanya sebesar 11,05 trilun (8,91 triliun PMDN + 2,14 triliun PMA). Tahun 2018 nilainya juga masih lebih besar dibandingkan dengan tahun 2021, sebesar 14,22 triliun (12,32 triliun PMDN + 1,9 triliun PMA). Sangat jelas bagi saya lesatan yang dimaksud dari perbandingan ini tidak terjadi.

Saya kemudian bandingkan dengan nilai realisasi investasi provinsi lainnya di Sumatera, ternyata tidak ada juga yang luar biasa. Lampung memang biasa berada di posisi ke-4 atau ke-5, hampir selalu berada di belakang Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Ketika dihitung seberapa besar persentase investasi yang masuk ke Lampung dari total investasi yang masuk ke Sumatera, delapan tahun terkahir relatif stabil di kisaran 6% dampai mendekati 8%. Tahun 2018 justru menorehkan catatan terbaik karena dari total nilai investasi yang masuk ke Sumatera, 11,17% nya menjadi realisasi investasi di Lampung. Dari perbandingan ini, saya meyakini lesatan yang dimaksud juga tidak terjadi.

Tentang bahayanya penyebaran informasi yang dilakukan secara massif, kita semua banyak yang pernah membaca sebuah kalimat populer dari seorang petinggi NAZI Paul Joseph Goebbels. Ia berkata “a lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes the truth", terjemah bebasnya “kebohongan yang disampaikan sekali tetap hanya akan menjadi kebohongan, tetapi kebohongan yang disampaikan ribuan kali akan berubah diterima sebagai kebenaran”.

Saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan ada praktek kebohongan atau kerja disinformasi yang tengah berlangsung. Saya hanya ingin mengatakan bahwa para cendekiawan khususnya akademisi di kampus dan teman-teman jurnalis di Lampung sejatinya memiliki tanggungjawab intelektual dan moral untuk memastikan setiap informasi yang dibagikan oleh lembaga negara termasuk pemerintah daerah dapat dipertanggungjawabkan kebenaran dan akurasinya sebelum disebarluaskan menjadi konsumsi publik.

Keteguhan merawat rasionalitas dan menjaga sikap obyektif itu tentu menuntut pengorbanan, terutama secara mental di ruang perasaan. Hanya keihklasan yang dapat menjadi obat penawar paling baik untuk mengobatinya.

Selamat Tahun Baru, semoga di tahun 2022 Tuhan YME, Allah SWT senantiasa melimpahkan karunia kesehatan dan memudahkan segala urusan yang menjadi hajat hidup masyarakat Lampung.

Penulis adalah Dewan Pakar Majelis Adat Kerajaan Nusantara