Lampung Kerap Telat, Bertindak Setelah Covid-19 Meledak

Nizwar Affandi/Ist
Nizwar Affandi/Ist

Pengamat Kebijakan Publik Lampung, Nizwar Affandi menilai rencana Pemprov melalui PMI membeli mesin Apheresis-Plasmaferesis untuk memisahkan plasma darah sebagai keputusan yang telat.


Setelah kasus Covdi-19 meledak, baru bertindak. Kenapa Lampung kerap telat dibanding provinsi lain?

"Dulu di awal pandemi kita ingat polemik soal mesin PCR Test, ketika Sumatera Selatan sudah ada 2 unit bahkan Sumatera Utara sudah 3 unit, Lampung baru mau menerima kiriman 1 unit," ujarnya, Kamis (22/7).

Sekarang, terulang lagi di mesin pemisah plasma darah (Apheresis-Plasmaferesis), sejak awal tahun 2021 sudah ada 31 UDD (Unit donor darah) dan yang memiliki mesin ini hanya PMI  tapi ternyata belum termasuk Lampung. 

Barulah di akhir Juli ini setelah ledakan penyebaran terjadi, barulah PMI atau pemerintah sibuk mau mendatangkannya (Apheresis).

Nizwar mengaku secara subyektif  itu sebuah keputusan terlambat, yang tampaknya ingin dikemas secara dramatis agar terkesan patriotik. Tidak apa-apa walaupun terlambat daripada tidak sama sekali.

"Kita berharap semoga di kemudian hari tidak terulang lagi tabiat buruk "sudah basah kuyup tersiram hujan, baru sibuk mencari payung”. Mestinya sebagaimana provinsi-provinsi lainnya, “plasmaferesis” sudah bisa dilakukan di Lampung sejak Januari yang lalu, bukan di akhir Juli baru sibuk berencana mendatangkannya," harap Nizwar. 

Ketua MKGR Lampung itu juga menyoroti Ketua PMI Lampung Riana Sari Arinal yang salah sebut nama mesin yang digunakan untuk memisahkan plasma darah.

"Sepertinya Ketua PMI Provinsi Lampung Riana Sari Arinal yang kebetulan istri Gubernur salah sebut nama mesin yang digunakan untuk memisahkan plasma darah sehingga tanpa cross check langsung dimuat mentah-mentah keterangannya oleh media," kata Nizwar.

Setahu Nizwar, nama mesin yang akan digunakan untuk memisahkan plasma darah yakni “Apheresis”, sementara yang disebut Riana “sterile connecting devices”.

Padahal itu adalah prosedur penggunaan alat penghubung antar tabung (tube) yang steril, sejak pertengahan tahun 90-an  prosedur ini populer disebut dengan STCD.

“Apheresis” adalah mesin yang mampu memisahkan trombosit (trombaferesis), eritrosit(eritraferesis), leukosit (leukaferesis) dan plasma (plasmaferesis) dalam darah. 

Namun, dalam konteks donor plasma konvalesen, yang dilakukan adalah “plasmaferesis” karena yang diambil plasmanya saja sementara yang lainnya dimasukkan kembali ke tubuh pendonor.

Harga mesin Apheresis per unitnya memang berkisar Rp1,1 miliar sampai dengan Rp1,2 miliar. 

Sementara harga STCD yang disebut Riana (Ketua PMI Provinsi Lampung) hanya berkisar antara Rp65 juta sampai dengan Rp70 juta per unit.

Apheresis membuat pendonor plasma konvalesen dapat kembali mendonor setelah 14 hari jadi, tidak perlu menunggu selama 10 minggu untuk boleh kembali berdonor (jika dilakukan manual jangak waktu donor kembali sangat lama).

Tetapi, setiap pendonor konvalesen  maksimum hanya diperbolehkan mendonor sebanyak 3 kali (tidak boleh lebih) agar titer antibodi pendonor dapat dijaga.