LBH Bandarlampung Kawal Pedagang Pasar Griya Kasasi Ke MA




Para pedagang Pasar Griya Sukarame melanjutkan gugatan atas penggusuran terhadap mereka oleh Pemkot Bandarlampung ke Mahkamah Agung (MA).

Kodri Ubaidillah, penasihat hukum para pedagang Pasar Griya Sukarame, Kota Bandarlampung, Selasa (20/5), menyatakan konsisten terus mengawal kasus dua tahun lalu itu hingga kasasi.

MA sudah menerima dan telah meregistrasi berkas kasasi kasus penggusuran terhadap para pedagang Pasar Griya, kata Kodiv Advokasi LBH Bandarlampung itu kepada Kantor Berita RMOLLampung.

Menurut dia, aparat hukum maupun pemerintah hendaknya melihat 28 KK dan 155 jiwa warga tersebut dari aspek keadilan terhadap rakyatnya sendiri.

[caption id="attachment_42496" align="alignnone" width="610"] Pol PP mengawal alat berat menghancurkan tempat mata pencarian puluhan warga di Pasar Griya, Sukarame, Bandarlampung/Ist[/caption]

Akibat penggusuran tersebut, kehidupan mereka morat-marit, mata pencarian hilang, setelah lahan pasar yang puluhan tahun mereka tempati diubah menjadi perkantoran.

Nasib mereka bersama keluarganya terbengkalai hingga kini. Padahal, anak-anak mereka butuh makan dan pendidikan.

Kodri Ubaidillah mengatakan pemerintah tak peduli terhadap mereka yang digusur sampai saat ini.

Masyarakat dianggap melawan pemerintah. Padahal mereka hanya menuntut keadilan saja, katanya.

[caption id="attachment_42497" align="alignnone" width="622"] Nasib puluhan pedagang luluh-lantak setelah tempat usahanya rata dengan tanah/Ist[/caption]

"Kami melakukan kasasi dengan harapan hakim agung melihat dari sisi kemanusiaan," kata dia.

Menurit Kondri, pihaknya juga menggugat DPRD, Pol PP, dan Dinas Perdagangan atas penggusuran terhadap para pedagang.

Para pedagang Pasar Griya Sukarame dan LBH Bandarlampung tidak menerima penggusuran karena cacat formal.

Dua tahun lalu, Jumat (20/7), Pemkot Bandarlampung menggusur pasar sampai mengakibatkan bentrok dengan sejumlah warga dan aktivis.


puluhan warga terdiri dari perempuan, anak-anak dan dan laki laki berusaha menghalangi petugas Pol PP yang mengawal satu alat berat eskavator masuk ke lokasi penggusuran.

Petugas yang mengawal alat berat berhasil masuk meski mendapat dorongan dan pukulan bahkan lemparan kayu, bambu dan barang berat lainnya.

Beberapa bangunan kios pasar terbuat dari papan dan bata sudah berhasil dirobohkan. Penggusuran masih terus dilakukan meski beberapa warga berusaha menghalangi alat berat bekerja.

Penggusuran itu dikawal polisi dan TNI.

Pascapenggusuran, warga aksi menginap di perantara Gedung DPRD Kota Bandarlampung.'