Lumpur Sisa Limbah IPLT Bakung Tak Dimanfaatkan Maksimal

Tumpukan lumpur sisa limbah tinja/Tuti
Tumpukan lumpur sisa limbah tinja/Tuti

Lumpur sisa limbah tinja di IPLT Bakung dibiarkan bertumpuk disisi kanan di luar ruangan mesin mekanik. Sebagian tumpukan berwarna hitam itu mulai mengeras karena terlalu kering.


Terlihat juga pohon rampai tumbuh subur di atas tumpukan lumbur sisa, bahkan telah mulai berbuah. Ada juga pohon ceri yang tumbuh, namun masih kecil. 

"Mungkin bijian tidak bisa dicerna dalam tubuh. Jadi tumbuh disini," kata Koordinator IPLT Kota Bandar Lampung, Aji Wijaya, Jumat (15/7). 

Menurutnya, lumpur sisa limbah tinja belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal berpotensi menjadi pupuk organik untuk tanaman kayu. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan jika lumpur sisa limbah tinja tersebut bebas dari bakteri E-coli. 

"Belum ada pengelolaan dan penelitian lebih lanjut. Dulu pernah digunakan untuk bahan penimbunan tanah saja," ujarnya. 

Lumpur sisa limbah itu terkumpul sejak April lalu, saat mesin mekanik beroperasi. Mesin ini berfungsi untuk memisahkan lumpur dengan air. Sebelumnya air tinja dibuang ke badan sungai, air tinja dialirkan ke penampungan aerobik untuk proses perbanyakan bakteri dengan bantuan blower. 

Lalu air tinja akan mengalir ke kolam fakultatif atau pengendapan. Mengalir lagi ke kolam maturasi dan desinfektan dengan penambahan kaporit 20 kilogram. Kemudian air disalurkan ke kolam lindi. 

"Setiap minggunya kami melakukan pengecekan pH air dengan kertas lakmus. Jika pH 6-7 berarti aman untuk dialirkan ke kolam lindi," jelasnya. 

Diketahui, dalam sehari IPLT Bakung menerima 10-15 truk mengangkut limbah tinja. Dimana per 3 meter kubik membayar Rp120 ribu.