Masa Kecil Sekjen Kemendikbudristek asal Pringsewu Suharti, Jualan Bunga untuk Beli Es Tung-tung

•DAERAH
externalexternalexternalexternal
Masa Kecil Sekjen Kemendikbudristek asal Pringsewu Suharti, Jualan Bunga untuk Beli Es Tung-tung
Suharti/Ist

Mantan Deputi Gubernur DKI Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman Ir Suharti MA PhD resmi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Selasa (24/8).

Ia diketahui sebagai perempuan satu-satunya menjabat sebagai Sekjen Kemendikbudristek. Perjalanan hidupnya tak mudah, ia berasal dari keluarga miskin di desa terpencil di Lampung, tepatnya di Kabupaten Pringsewu. 

Pada curriculum vitaenya di situs www.siswp.org, Suharti Sutar disebut sebagai wanita teladan.  

Dibesarkan dalam keluarga miskin di desa terpencil, dia tidak menyerah pada pernikahan anak dan melanjutkan pendidikannya dengan beasiswa World Bank. 

Suharti memperoleh gelar Sarjana Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga dari Institut Pertanian Bogor angkatan 1987.

Kemudian, memperoleh gelar Master di bidang Applied Economics dari University of Michigan, Ann Arbor, USA angkatan 1999 dan PhD dari Australian National University, Canberra, Australia di bidang Demografi dan Penelitian Sosial angkatan 2013.

Perjalanan karirnya sebelum menjadi Deputi Gubernur DKI Jakarta, pernah menjabat Kepala Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (PKLN) Kemendikbud. 

Dia juga pernah menjabat sebagai Direktur Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

Ia salah satu pejabat yang aktif memberikan edukasi mengenai Covid-19 melalui akun media sosialnya. Melalui akun instagramnya @Suharti Sutar yanh diunggah tiga hari lalu, dia membagikan pengalaman masa kecilnya. 

Dia mengunggah foto es lilin berwarna oranye dengan caption "Menikmati es lilin mangga buatan Mbak Yuni.  Alhamdulillah sekarang kalau ingin es lilin, es tung-tung, atau es krem ​​bisa beli atau bikin tanpa kesulitan," tulisnya. 

"Dulu jaman kecil, saat masih di SD, kalau pingin es lilin harus usaha dulu cari uang. Itupun biasanya belinya paruhan sama teman. Gak mampu beli utuh.  Cari uangnya gimana? Sama teman-teman cari bunga lalu dijual ke nenek-nenek penjual bunga makam," lanjutnya. 

"Kalau punya uang jajan juga tidak bisa sesukanya jajan karena ada 2 teman yatim piatu yang hidupnya lebih susah lagi. Kalau bukan mukjizat apalagi coba yang membuat emak-emak ini punya kehidupan seperti sekarang? Alhamdulillah," pungkasnya. 

Sampai sekarang, Suharti terus melakukan terobosan program untuk meningkatkan kesetaraan gender di semua sektor melalui pendidikan dan perencanaan pembangunan nasional.Article Image

Editor : Adi Pranoto

Kata Kunci


Berita Terkait