Masuk Puncak Musim Kemarau Tapi Lampung Masih Diguyur Hujan, Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi / net
Ilustrasi / net

Meski bulan Agustus-September 2022 masuk puncak musim kemarau. Namun, tidak menutup kemungkinan hujan masih terjadi di beberapa daerah di Lampung.


"Kecuali di beberapa daerah bagian barat Lampung, ada potensi lebih kering dibandingkan normalnya," jelas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung lewa akun instagramnya, Minggu (28/8).

BMKG Lampung Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II menjelaskan, 37,7 persen zona musim di wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau sejak pertengahan Juli, namun di periode musim kemarau bulan Agustus ini masih terdapat peningkatan curah hujan.

Hal ini disebabkan anomali iklim, di antaranya suhu muka laut Indonesia hangat, la nina lemah dan IOD negatif.

Suhu muka laut yang hangat disekitar perairan sebelah Barat dan Timur Indonesia mengindikasikan adanya proses penguapan yang cukup intensif dan berkontribusi pada ketersediaan uap air yang cukup tinggi di wilayah sekitarnya. 

Kemudian, BMKG Lampung melanjutkan, La Nina adalah fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. 

Pendinginan SML tersebut mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum. Pada Juli 2022, indeks ENSO 0,69 menunjukkan la nina lemah.

Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) Juli 2022 sebesar -0,99 menunjukkan IOD negatif. Artinya peristiwa menurunnya SML pada Samudra Hindia bagian barat. 

Peristiwa ini menyebabkan tekanan udara di wilayah ini jadi lebih tinggi dibandingkan dengan pesisir timur Samudera Hindia yang berada dekat Indonesia. Akibatnya pesisir timur Samudra Hindia seperti Indonesia mengalami pembentukan awan yang tinggi dan mengalami curah hujan yang tinggi.