Mbak Pur Ahlinya Tancap Menancap


Hanya tiga partai yang berhasil dijerat. Itupun posisi koalisi dengan
Partai Go-Kart, seperti yang disuarakan media-media partisan yang dikuasai Mbak
Pur, masih bersifat sementara. Belum permanen. Misalnya Partai Kutu Busuk,
Partai Gergaji. Hanya Partai Anak Nakal yang dipimpin sosok munafik kebelet
mendeklarasikan diri.

Walau
demikian, target Mbak Pur menistakan Ronald sejauh ini berhasil. Ronald
terancam tak bisa tampil dalam kontestasi. Hanya saja, posisi Ronald yang
demikian, tak lepas dari peran Mustajab yang berhasil mengambil hati Partai
Kutu Sapi dan Partai Hati Yang Luka. Dua partai ini sudah cukup bagi Mustajab
untuk melaju dalam kontestasi bersama Partai Nasi Goreng Adem yang dipimpinnya.
Bahkan Mustajab berhasil menentukan cawagubnya. Siapakah? Kabar yang bertiup
dari Bujung Tenok menghembuskan kabar, sosoknya berasal dari kader Partai Kutu
Sapi dan Partai Hati Yang Luka, bukan adik tokoh munafik yang partainya
berkoalisi dengan Juned.

Bila
sedikit ingin berlagak sebagai pengamat, keberhasilan Mustajab menggalang
Partai Kutu Sapi dan Partai Hati Yang Luka, selain keberhasilan menekuk Mbak
Pur, lebih disebabkan bangkitnya semangat perlawanan warga di Kawasan Pabrik
Permen terhadap Mbak Pur. Sebab, bila dinilai dengan uang, ongkos yang
dikeluarkan Mustajab, rata-rata hanya 500 juta perkursi. Sementara dana yang
digelontorkan Mbak Pur, persatu kursi menyentuh angka 4 miliar.

Mengapa
warga melakukan perlawanan? Pertama, selain sosok Juned yang tak memiliki daya
tawar dan nilai jual, juga merupakan boneka. Juned hanya bisa menang kontestasi
bila membeli suara. Kedua, kesombongan Mbak Pur yang menganggap semua tokoh
partai bisa dibeli. Ketiga, langkah Mbak Pur ketika mengakuisisi Partai Kutu
Busuk dan Partai Anak Nakal merupakan strategi adu domba. Memecah belah
persatuan dan kerukunan tokoh-tokoh masyarakat dan politik di kawasan Pabrik
Permen.

Tiga
hal diatas memicu kemarahan warga karena merupakan bentuk kesewenang-wenangan
dan keserakahan Mbak Pur. Belakangan, melalui mulut Juned niat ingin menguasai
seluruh kawasan Pabrik Permen terkuak.

Niatan
Mbak Pur ini, terkonfirmasi dengan pernyataan Juned dihadapan para pemimpin
lembaga rakyat yang kini membentuk Dangsus Permen. Tanpa disadari, manakala
Juned berupaya meyakinkan para petinggi lembaga rakyat agar tidak membentuk
Dangsus Permen, rangkaian kalimat Juned yang telah menganggap dirinya menjadi
gubernur, meluncur secara sistematis dan sempurna.

Juned
memulai dengan bait-bait kalimat yang menistakan Ronald. Tidak punya kemampuan
untuk mengembangkan kawasan Pabrik Permen. Program gubernur sebelumnya yang
menset-up pindahnya komplek perkantoran tata praja ke wilayah lain, seharusnya
dilaksanakan Ronald. Alasan adanya larangan tidak diperkenankan untuk membangun
perkantoran baru, seharusnya bisa disiati. Dicarikan jalan keluar, tanpa harus
menggunakan anggaran resmi.

"Kalau
Ronald pintar, harusnya ada jalan kelaur. Tidak diam," ungkap Juned (Sekadar
tahu, pada masa itu, Juned sudah jadi boneka Mbak Pur dan memegang posisi
strategis dibawah Ronald).

Pidato
berapi-api Juned terus membuai. Niatannya, tentu Juned ingin menunjukkan bahwa
dirinya sangat layak jadi gubernur. Tanpa disadari, saking semangat, Juned yang
merasa sudah menjadi gubernur, dari alam bawah sadarnya meluncur kalimat:

"Saya
akan teruskan program perpindahan kompleks tata praja. Saya panggil pihak
swasta untuk menilai aset seluruh lokasi kompleks yang ada sekarang. Kemudian
buat kesekapatan agar mereka membangun lokasi perkantoran baru, sesuai hasil
penilaian dan dengan luasan dan kebutuhan tata praja. Setelah selesai, baru
pindah. Aset yang lama kita serahkan kepada mereka. Mau mereka bangun mall,
hotel lantai 30, saya izinkan," kata Juned.

Tak
cukup hanya sebatas itu, Juned pun memaparkan argumentasi kajian yang
dipahaminya. Langkah memindahkan kompleks tata praja, merupakan solusi untuk
mengurangi kepadatan ibukota. "Mau dibangun 10 flyover pun, ibukota kawasan
tetap akan sumpek dan macet. Kita harus tarik keluar dengan cara mengembangkan
kawasan baru,"kata Juned dihadapan para petinggi lembaga rakyat yang  terbengong-bengong, terkagum-kagum, mungkin?
Tapi Juned lupa, bahwa posisi strategis perkantoran lama, nila tanahnya sangat
mahal bila dibanding nilai tukar guling bangunan di kawasan baru. Disinilah celah
kongkalikong mafia tukar guling aset dengan penguasa.

Apa
makna dari pidato Juned? Sangat mudah dipahami. Agenda Juned masuk dalam
kontestasi gubernur, merupakan pembawa misi kepentingan konglomerasi bisnis.
Mbak Pur ingin menancapkan kuku kian dalam di kawasan Pabrik Permen. Sebuah
ancaman neokoloniasme.

Publik
mengerti betul, neokolonialisme merupakan wajah baru dalam tatanan ekonomi
politik. Menciptakan lilitan saling ketegantungan antara pengusaha dan penguasa
merupakan kunci memperluas neokolonialisme. Sehingga para pemimpin tata praja
di seluruh kawasan Pabrik Permen sulit untuk mengembangkan perekonomian warga.

Memang,
penjajahan dalam bidang ekonomi terjadi tatkala sistem kapitalisme diterapkan.
Secara perlahan penjajah masuk. Ini terjadi karena metode penyebaran ideologi
kapitalisme memang melalui Imperialism. Keadaan seperti ini kerap disebut
hegemoni kapitalisme.

Ternyata
hegemoni kapitalisme yang melanda seluruh kawasan Pabrik Permen sudah cukup
dalam. Melingkupi segenap kehidupan bermasyarakat. Mbak Pur mencengkram aspek
politik, ekonomi, sosial, dan juga kesehatan hingga HAM, masuk dalam jeratan
kapitalismenya. Dan ini semua menunjukkkan bahwa hadirnya bentuk penjajahan
gaya baru.

Menjadi
menarik, bahwa hegemoni kapitalisme mempunyai struktur secara global dan juga
lokal. Menurut Bradley R. Simpson dalam Economists
with Guns
, struktur kapitlisme lokal terangkai dan berjenjang: Elit
penguasa lokal - Birokrat dan teknokrat - Perusahaan multinasional - Kaum
"borjuis" lokal, erzats capitalism.

Sementara
pakar ekonomi Dwi Condro Triono, M.Ag., Ph.D meringkaskan  bahwa hegemoni kapitalisme terjadi dengan
beberapa jurus-jurus jitu, antara lain: Memakan perusahan kecil, The Law of Capital Accumulation -  Penguasaan bahan baku lokal, proses
konglomerasi dari sektor hulu ke hilir - Mematikan perusahaan lokal -
Penguasaan tenaga kerja lokal murah ÔÇôdan menempatkan penguasa boneka melalui
bantuan dana kampanye Pilkada.

"Kamu
merokok ya?" ujar Mbak Pur.

"Enggak.
Sudah berhenti," jawab Juned.

"Ah,
kamu mulai berbohong," balas Mbak Pur dengan wajah mengkerut.

"Sungguh,
aku tidak merokok. Lebih sehat Bunda yang merokok," balas Juned.

Juned
lupa, bahwa keahlian Mbak Pur, selain pandai merokok, Mbak Pur sangat tajam
penciumannya bila tamu-tamunya seorang perokok. Bahkan, kacung-kacung dekat
Mbak Pur yang perokok, bila ingin berjumpa dengannya, perlu ganti baju baru dan
memakai minyak wangi terlebih dahulu.

Yang jelas, Mbak Pur memang ahlinya, tancap menancap. Apalagi untuk menancapkan Hegemoni Kapitalisme, memang dia ahlinya. (d)


Berita Sebelumnya

Bravo Lima

Berita Berikutnya

Jaring Korupsi Mustafa