Mbak Pur, Ketika Cinta Bersyahwat Kekuasaan


Keduanya
duduk di sofa, saling bersebelahan. Dalam moment kebersamaan seperti malam ini,
Mbak Pur selalu mengambil posisi disebelah kanan Juned.

"Dik,
bagaimana perkembangan lapangan?," suara Mbak Pur menusuk tajam ke telinga
Juned.

"Baik-baik
saja Bunda. Berjalan sesuai dengan rencana. Hanya sedikit lelah," balas Juned
merajuk.

Mbak
Pur menggamit lengan Juned masuk ke kamar, menuju meja besar ditengah Penthouse
mereka.

Dimeja
panjang yang customize dengan ruangan, tertumpuk berkas-berkas hasil kerja
lembaga survei. Satu bundel hasil survei terkini Saifah Mujono dibuka Mbak Pur.
Pada halaman bagian tengah, terlihat grafik tentang popularitas dan
elektabilitas calon gubernur. Juned bertengger pada angka 7 persen. Sementara
empat kontestan lainnya, berada diatas Juned. Bahkan ada kontestan yang
digadang-gadang hanya sebagai cawagub, menclok diatas Juned dengan selisih 2,8
persen.

"Bunda,
ini hasil bisa benar, bisa juga salah," Juned berkomentar sembari menerangkan
bahwa lembaga survei dimaksud bekerja atas perintah Partai Daun Itunya Pepaya.

Mbak
Pur diam. Tubuhnya beringsut, menggeserkan kursi agar lebih dekat lagi dengan
Juned. Tangannya menggamit bundel lain yang berada disisi kiri meja. Mbak Pur
membuka halaman yang sudah diberi tanda, dilipat pada ujung bagian atas kertas.

Sebuah
gambar grafik model Batang berwarna merah, biru, hijau muda, kuning, coklat,
dan abu-abu berjejer rapi. Pada bagian atas grafik tertera angka-angka dalam
persentase. Pada bagian bawah grafik, tertera nama-nama para kandidat, termasuk
nama Juned.

Pada
bagian atas jejeran grafik Batang, sebaris kalimat berbunyi: Bila Pilgub
dilakukan hari ini (tanggal survei tertera 5 September 2017) siapa yang akan
anda pilih? Nama Juned berada pada grafik Batang berwarna Kuning dengan angka
11,8 persen. Sementara yang berwarna Merah tertera angka 41,2 persen, Biru
32,,4 persen, Hijau muda 14,6 persen.

Buku
hasil suvei kedua yang dibuka Mbak Pur merupakan karya 2 bulanan lembaga survei
Lebih Seksi Indonesia. Mereka mendapat mandat dari pusat Partai Go-Kart untuk
melakukan survei Pilgub di kawasan Pabrik Permen.

"Lembaga
survei kan bisa dibayar Bun.. Musuh-musuh kita ingin menjatuhkan saya," ujar
Juned mengomentari.

"Masyarakat
menyambut saya dengan antusias pada setiap event. Baik jalan sehat, wayangan,
pengajian, ataupun operasi pasar. Mereka mengelu-elukan saya sebagai pemimpin
masa depan," terang Juned menggeser tubuhnya, menempelkan kepalanya di pundak
Mbak Pur.

Mbak
Pur tak menjawab (karena punya hasil lembaga survei khusus yang menampakkan
hasil yang yang sama). Dipegangnya kedua belah pundak Juned. Keduanya saling
berhadap-hadapan. Tatapan tajam mata Mbak Pur menghujam kedua mata Juned.

"Aku
yakin dengan upaya yang kita lakukan. Tak perlu berkecil hati," ujar Mbak Pur.

"Ini
semua kerjaan kaki tangan Ronald. Dia sudah kepepet. Anak kecil itu tak bisa
ikut kontestasi," jawab Juned dengan cepat, sembari balas menatap Mbak Pur.

Sementara
Mbak Pur dan Juned saling tatap menatap (seterusnya terkena sensor), nun jauh
disana, di ruang rapat pusat Partai Go-Kart, terjadi perdebatan seru diantara
sesama pembalap. Salah satu topik hangat adalah tidak diterimanya kompensasi
sebesar 50 miliar yang diberikan oleh utusan Guntur untuk sang ketua yang kini
berbaring segar bugar di ranjang rumah sakit.

"Untuk
apa uang itu?" tanya Nurdiono Hasibuan.

"Sumbangan
tiket untuk dicagubkan," jawab Idris Marhaban.

"Bukannya
untuk jadi ketua?" tanya Nurdiono.

"Kalau
soal itu, Nusrizal Wahabi yang selesaikan," jelas Idris.

"Ok,
kita akan pertimbangkan lagi," jawab Nurdiono.

Sementara
dari balik jeruji, Fatharudin berteriak kencang. "Jangan pernah bermimpi untuk
meloloskan Juned  maju Pilgub," ujarnya
dengan sorot mata yang tajam.

"Memang
kenapa?" tanya Naswar yang menyambanginya di rumah tahanan.

"Nusrizal
dan Idris pengkhianat. Kita sudah beri pelajaran. Kita ganti jagoaan mereka di
Jawa Barat," jelas Fatharudin.

"Bagaimana
nasib Juned?" tanya Naswar.

"Akan
kita Jawa Baratkan bila 50 Miliar tak sampai kesini" tegas Fatharudin.

Di
bagian ruang rapat yang lain, masih di pusat Kartai Go-Kart, sebuah keputusan
untuk mengganti sang ketua diambil. Panitia pesta pilih-pilih disiapkan secara
cepat. Langkah menyiapkan pelaksana tugas (Plt) sudah tuntas. Beragam tahapan
sudah disiapkan. Apakah Nurdiono Hasibuan atau Angga Harmain yang akan menjadi
Plt, sedang didiskusikan dari hati ke hati. Tahapan awal, tampaknya sudah
mengerucut, menggantikan tugas sang ketua di lembaga rakyat, peranya
dilimpahkan ke Riswan Hasim.

Tokoh-tokoh
senior partai tempat berhimpunnya para pembalap memang menghendaki adanya
penggantian sang ketua. Mereka sangat khawatir, bila benah-benah tidak
dilakukan, partai tak mampu lolos dari ambang batas lembaga rakyat.

Sementara di warung Kopi, Ronald dihadapkan hanya pada dua pilihan: Maju bersama untuk melawan kolonisasi, atau selamat tinggal. Semua tergantung keberanian. Bila tak punya nyali, lebih baik ambil selimut tebal. Tak ada yang perlu dipersalahkan. Pada langgam politik, bukan soal salah dan benar yang menjadi tujuan, tapi memenangkan sebuah peperangan, bukan sebatas pertempuran. Siap nggak perang? (d)