Mbak Pur Mau Nikah Tanpa Mempelai


Boneka
tulen Mbak Pur untuk mengangkangi kekuasaan melalui Partai Go-Kart, Juned pun
terkena imbas. Padahal berbagai aksi massif sudah dilakukan. Mulai dari
menampilkan artis-artis yang tak patut ditonton kaum berakhlak, hingga wayang
dan olahraga berhadiah mobil dilakukan tanpa jeda. Tetap tak mampu membuat
elektablitas Juned dikerek keatas. Ternyata tak semudah seperti mengerek
retsliting celana.

Usai
pentas seronok pedangdut, Mbak Pur menunjukkan foto sembari berbisik: Dik,
mimik wajah mu kog lain ketika nyanyi bersama pedangdut itu?

Juned
melihat foto yang ditunjukkan: Kelelahan bunda.

Mbak
Pur: Lelah membayangkan gaya celentang dan jongkok ya?

Sembari
mengenakan baju, Juned menjawab: Bukan, kurang tidur Bun

Demi
kesuksesan  Juned, bila dihitung-hitung, Mbak
Pur sudah menghabiskan lebih dari 30 miliar untuk mengerek tingkat popularitas
dan elektabilitas Juned. Sementara Guntur tak kalah getolnya. Partai-partai
yang berhasil dipinang untuk menggotong Juned meraih kursi yang kini berada
dalam kekuasaan Ronald, telah menghabiskan dana 75 miliar.

Setidaknya,
melalui perang urat syaraf di ruang publik, sudah digembar-gemborkan bahwa
partai-partai yang selama ini diakui Ronald mendukung dirinya, seperti Partai
Anak Nakal, Partai Gergaji, Partai Kutu Burung, Partai Hati Yang Luka dan
Partai Pas Pasan, disapu bersih, menempel dibawah ketiak Mbak Pur.

Namun
Mbak Pur lupa, bahwa partai-partai itu masih merenungkan, apakah akan melakukan
finalisasi pernikahan dengan Juned. 
Pasalnya para politisi itu belum meyakini Partai Go-Kart akan mengusung
Juned sebagai kandidat mereka, walaupun Juned menyandang status sebagai ketua.
Faktanya Juned belum bisa menunjukkan bahwa Partai Go-Kart sudah secara sah
mengusung dirinya sebagai cagub, masih sebatas surat tugas penjajakan belaka.
Bagaimana mungkin pinangan yang dilakukan selama ini bisa berlanjut ke jenjang
pernikahan, bila tanpa kedua mempelai.

Faktor
diatas yang membuat Partai Anak Nakal, Partai Gergaji, Partai Kutu Burung,
Partai Hati Yang Luka dan Partai Pas Pasan menjadi galau. Sebab para politisi
itu tak akan mengeluarkan keputusan untuk melakukan pernikahan, tanpa kedua
calon mempelai. Bagi mereka, Juned harus mendapat kepastian diusung Partai
Go-Kart sebagai cagub. Ditambah lagi kondisi Partai Go-Kart kini mengalami prahara
yang serius di pusat kekuasaan. Situasi ini menambah panjang keragu-raguan.
Bisa dibayangkan, ketika pernikahan sudah diputuskan, ternyata tanpa pasangan
mempelai. Lantas siapa yang akan bersanding? "Mbak Pur dan Juned saja," celetuk
politisi Partai Hati Yang Luka. "Lebih cocok Juned dan Nungky, kan mereka sudah
serasi bernyanyi," sahut politisi Partai Kutu Burung, sembari mengumbar tawa.

Ditengah
upaya Juned mendesak partai-partai yang berhasil dipinang untuk mendeklarasikan
dukungan mereka ke publik, petinggi-petinggi partai yang tak menjunjung
martabat, karena tertidur diatas tumpukan uang puluhan miliar, ada saja yang
bersedia untuk mendeklarasikan diri pada Oktober ini. Bila pun deklarasi
dilaksanakan, belum bisa menjamin akan adanya pernikahan.

Sejatinya,
langkah deklarasi yang diagendakan Mbak Pur merupakan cara untuk menjebak
partai, sekaligus mencampakkan martabat partai di mata publik. Selain ingin
mempertontonkan bahwa kekuatan uang Pabrik Permen bisa membeli partai.

Tiba-tiba
Raden Jambat berkomentar: Anda telah berhasil mengadu domba tokoh-tokoh partai.
Lantas dengan ringan Guntur berujar: Memang itu bagian dari tujuan. Bila mereka
kompak, kami susah dibuatnya.

Raden
Jambat terus mengejar: Apakah tak ada cara lain yang lebih berakhlak? Kami tak
pernah mengenal akhlak. Bukan jurusan kami. Itu milik kaum-kaum yang beragama,
sergah Guntur.

Raden
Jambat kehilangan kata-kata. Merenung jauh. Sudah begitu parahkah situasi
negerinya. Hanya karena uang dan kenikmatan sementara, tokoh-tokoh yang selama
ini menjadi panutan warga dalam hal cara bertatakrama melupakan jati diri
mereka?

Diujung sana, Mbak Pur dan Juned saling berlomba membersihkan diri. Keduanya bergegas mengakhiri evaluasi bisnis yang memang tak banyak melahirkan perdebatan. Mbak Pur dengan tangkas menyambar tas kesayangan, untuk segera menghadiri pertemuan bisnis lainnya. Sementara Juned pun bergegas meninggalkan kamar, menemui istri dan anaknya yang sedang belanja di mall kesayangan mereka. (d)