Menilik Proses Pembuatan Kapal di Pulau Pasaran 

Proses pembuatan kapal yang dilakukan Ahmad/ Tuti
Proses pembuatan kapal yang dilakukan Ahmad/ Tuti

Angin laut berhembus semilir menemani aktivitas Ahmad (35) dalam membuat maha karya kapal kayu berukuran panjang 18 meter, dan lebar 4,5 meter di Pulau Pasaran, Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung. 


Hampir sebulan ini Ahmad bersama ketiga temannya menggarap kapal kayu yang telah dipesan oleh nelayan setempat. Dengan tangan yang telah lihai, Ahmad mengamplas body kapal setengah jadi itu. 

"Biasanya butuh waktu 1,5 bulan untuk menyelesaikan satu kapal. Namun jika terkendala hujan dan listrik bisa lebih lama," kata Ahmad, Jumat (25/3).

Dalam membuat kapal itu, Ahmad menggunakan kayu mentru untuk body kapal, dan kayu bungur untuk tulang kapal. Hampir semua bahan didatangkan langsung dari Lahat, Sumatera Selatan. 

Kapal yang sudah setengah jadi/ Tuti

"Ini sudah setengah jadi. Awalnya kalau saya buat itu lunas atau bagian bawah kapal, lalu tajuk. Kemudian body kapal separuh, baru tulang, dilanjutkan body lagi. Setelah itu pemasangan kamar," ujarnya. 

Menurutnya, kapal berkapasitas 30 gross ton yang ia buat, membutuhkan dana cukup fantastis yakni kisaran Rp300 juta. Sementara untuk ketahanan bisa mencapai 20 tahun, bergantung perawatannya. 

"Kapal itu harus rajin dicat minimal 2 bulan sekali, dan dipasak (dimasukkan tali pada sambungan baru didempul) agar tidak bocor," jelasnya. 

Bermodalkan belajar secara otodidak, Ahmad kini sering mendapatkan panggilan untuk membuat kapal. Selain di Pulau Pasaran, Ahmad juga membuat kapal di Jawa, Jakarta dan sekitarnya. 

"Biasnya permasalahan pembuatan kapal itu lama dalam proses persuratan, karena kapal yang dibuat bukan kapal nelayan, tapi masuk ke kapal angkutan. Jadi harapannya proses pengurusan surat bisa dipermudah," ujarnya.