Menolak Lupa Kasus Pelanggaran HAM, UKPM Teknokra Gelar Diskusi Tragedi UBL Berdarah

Repro
Repro

Menolak lupa kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM ) Teknokra menggelar diskusi tragedi 22 tahun UBL berdarah yang memakan korban jiwa dari salah anggota UKPM Teknokra yakni Saidatul Fitria (Fotografer UKPM Teknokra).


Diskusi yang dilakukan secara virtual ini mengundang beberapa narasumber seperti Juwendra Asdiansyah (Pelaku Sejarah) dan Prabowo Pamungkas (Ketua kampanye dan jaringan LBH Bandarlampung). 

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan UKPM Teknokra, M. Faizzi Ardhitara mengatakan diskusi ini dilakukan untuk mengenang peristiwa pelanggaran HAM berat dan mencari tahu bagaimana tragedi tersebut terjadi. 

“Untuk mengingatkan kembali khususnya kru Teknokra untuk mengingat kembali kejadian nahas tersebut yang terjadi pada 22 silam tentang tragedi UBL berdarah yang menimpa jurnalis kampus, dan tidak melupakan sejarah pelanggaran yang terjadi di Lampung ini” kata Faizzi, Selasa (28/9).

Ia berharap juga para kru Teknokra atau generasi saat ini bisa menjadikan almarhumah Saidatul Fitria sebagai role model dalam kehidupan mereka.

“Saya berharap perjuangan beliau, bisa dilanjutkan oleh generasi saat ini dan tidak melupakan perjuangan yang telah beliau lakukan, baik sifat, rasa semangat yang dimiliki beliau bisa diteladani oleh setiap orang," jelasnya. 

Sementara itu, Juwendra Asdiansyah menceritakan kronologis kejadian saat itu. Menurutnya, banyak demonstran yang berkumpul di depan Universitas Bandar Lampung (UBL) dan beraksi secara anarkis.

“Kejadian saat itu begitu ramai dengan demonstran, dan begitu mencekam. Almarhumah Saidatul Fitria di isukan meninggal karena dipukul dengan benda tajam, namun sampai saat ini belum terbukti kebenarannya” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketua Kampanye dan Jaringan LBH Bandarlampung, Prabowo Pamungkas. Ia menyatakan masih banyak sekali tindak kejahatan pelanggraan HAM yang masih belum terselesaikan.

“Banyak sekali tindak kejahatan HAM yang masih menjadi teka teki sampai saat ini. Jika kita hanya melakukan diskusi-diskusi saja, tanpa melakukan aksi apapun, maka sama saja, tidak akan ada penyelesaian masalah sehingga diharapkan usai diskusi, ada langkah konkrit untuk menuntut keadilan tersebut," jelasnya.