Merusak Ekosistem, Mitra Bentala Minta Normalisasi Alur Sungai Tulang Bawang Dihentikan

Direktur Eksekutif Mitra Bentala, Rizani Ahmad/Ist
Direktur Eksekutif Mitra Bentala, Rizani Ahmad/Ist

Mitra Bentala menegaskan kegiatan normalisasi alur pelayaran di Sungai Tulang Bawang masuk wilayah perikanan berkelanjutan. Sehingga dikhawatirkan dapat merusak ekosistem habitat sungai. 

Direktur Eksekutif Mitra Bentala, Rizani Ahmad mengatakan ekosistem habitat perikanan saat ini sudah cukup mendukung dengan adanya hutan mangrove, sungai dan muara. Jadi normalisasi sungai tidak perlu dilakukan dan sebaiknya dihentikan. 

"Di sana jugakan habitatnya rajungan, Provinsi Lampung inikan penyuplai nomor 3 di Indonesia. Jadi saya maklum dengan kekhawatiran masyarakat terhadap normalisasi sungai," kata Rizani Ahmad, Kamis (4/11). 

Menurutnya, ketika kegiatan normalisasi sungai tetap dilakukan, maka pemerintah harus bertanggung jawab terhadap rusaknya habitat sungai. 

"Seharusnya pemerintah membuat kegiatan yang mendukung ekosistem habitat sungai tersebut, bukan malah merusaknya. Jadi ketika kegiatan tersebut masih berjalan maka pemerintah harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat," ujarnya. 

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung menilai dicabutnya revisi Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 1 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) tidak berpengaruh pada kegiatan normalisasi alur pelayaran di Sungai Tulang Bawang. 

Normalisasi tersebut dilakukan pihak ketiga PT Sienar Tri Tunggal Perkasa (STTP) tepatnya di Kampung Kuala Teladas Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang (Tuba).

"Dibatalkan atau tidak seperinya tidak berpengaruh pada kegiatan normalisasi alur pelayaran di Sungai Tulang Bawang, karena kegiatan tersebut faktanya pelaksanaan kerja-keruk," ujar Direktur Eksekutif Walhi Lampung Irfan Tri Musri, Selasa (2/11).