Negara Seharusnya Prihatin, Pengangguran Sudah 30 Juta Saat Ini

Ekonom Senior Institute for Develompent of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini/Net
Ekonom Senior Institute for Develompent of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini/Net

Ekonom Senior Institute for Develompent of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini menilai perekonomian dalam negeri selama setahun lebih masa pandemi Covid-19 masih belum membaik.


Alasan dia, jumlah pengangguran semakin naik dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

Dia menjabarkan, ada dua kategori pengangguran yang sekarang ini ada. Pertama, pengangguran terbuka atau tidak bekerja yang jumlah naik cukup pesat.

Dengan adanya Covid, pengangguran terbuka tumbuh dari sekitar 7 juta menjadi 10-11 juta orang, ujar Didik dalam wawancara di kanal Youtube Bravos Radio Indonesia pada Selasa (20/4).

Kedua, ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) ini, pengangguran terselubung.

Pengangguran terselubung didefinisikannya sebagai orang-orang yang tidak sepenuhnya menganggur. Tapi masih bekerja beberapa jam dalam kurun waktu satu pekan lamanya.

"Orang-orang yang dalam survei satu minggu yang lalu (ditanya), 'kamu bekerja enggak?' Bekerja. 'Seminggu berapa jam?' Dua jam tiga jam. Itu pengangguran terselubung," ucap Didik.

"Jumlahnya dua kali lipat. Jadi pengangguran terbuka dan terselubung itu hampir 30 juta, 29 juta sekian. Jadi jumlahnya besar dan masif," sambungnya.

Karena itu, Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ini meminta negara, dalam hal ini pemerintahan Presiden Joko Widodo, untuk memberikan kebijakan yang serius membantu dan memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat.

Sebab disamping itu, ada sektor informal yang menurut Didik jumlahnya naik dari 45-50 persen menjadi 60 persen. Hal ini menegaskan banyaknya orang yang kehilangan kerja dan harus memilih aktif di sektor informal yang pemasukannya tidak pasti.

"Apa sektor informal? (Misalnya) dia jualan yang tidak bermutu, pendapatannya rendah, jam kerjanya rendah, semuanya rendah. Jadi sekarang kita menghadapi hal-hal yang betul-betul riskan," paparnya.

"Maka kita harus prihatin, negara dan lingkungan sekitar harus berupaya mengatasi ini. Itu keadaannya," demikian Didik J Rachbini.