Obituari Syafrin Romas: Kebenaran Tak Bisa Divoting




Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Lagi, kabar duka cita datang dari salah satu tokoh Lampung.

Jumat (12/6) petang, 11 hari jelang memasuki usianya yang ke-67 tahun pada 23 Juni mendatang, politisi kawakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Lampung, Syafrin Romas, wafat.

Bendahara Umum DPP PKB pertama (1998-2001), mantan Ketua DPW PKB Lampung 2001-2006, mantan anggota DPR/MPR 2004-2009 dapil Lampung II nomor anggota A-190 dan merupakan satu dari 51 anggota Fraksi PKB kala itu, wafat karena sakit dideritanya.

Informasi terhimpun, mendiang bernama gelar lengkap Haji Akhmad Syafrin Romas Arch MBA bin Haji Romas Jayaseputra, kelahiran Jakarta, 23 Juni 1953 ini berpulang pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat.

Dikonfirmasi, M Irfandi S Romas, salah satu putra almarhum, membenarkan, Sabtu dini hari. "Iya mas tadi (Jumat, red) sore," singkatnya, via WhatsApp.

Saat jadi legislator, mendiang Syafrin duduk di Komisi VI. Dan, dipercaya partai jadi Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga DPR. Ia pun tergolong cukup vokal. Diantaranya, saat proses membahas perubahan logo Pertamina.

Alumnus STM 3 Jakarta tahun 1974, Itenas/Atenas Bandung 1977, Glasgow School of Art, Skotlandia (1980), dan MBA Course, Jakarta (1998), ayah tiga putra-putri ini tak lain suami dari tokoh perempuan Lampung, Haryanti Syafrin.

Ya, Haryantie Syafrin, atau yang akrab disapa Untie, dikenal mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI 2004-2009 dapil Lampung. Ia pernah nyalon walikota Bandarlampung pada pilkada langsung pertama, 2005.

Untie, mantan Ketua kakak perempuan Alzier Dianis Thabrani, mantan Ketua Partai Golkar Lampung. Keduanya, anak mantan Walikota Bandarlampung HM Thabrani Daud.

Jenazah mendiang disemayamkan di rumah duka, Jl Wolter Monginsidi 1/3, Kelurahan Pengajaran, Telukbetung Utara, Bandarlampung. Tepatnya, di samping Emersia Hotel & Resort.

Sesuai rencana, jenazahnya pun telah dikebumikan Sabtu (13/6/2020) pagi, di pemakaman keluarga besar, Pekon Kagungan, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus.

Tempat peristirahatan terakhir itu berjarak sekitar 88,5 kilometer jika ditempuh lewat jalur darat melalui jalan lintas barat Sumatra, atau sekira 2,5 jam dalam situasi lalu lintas normal dari rumah duka.

Semasa hidup, Syafrin yang tumbuh dalam lingkungan keluarga nahdliyin itu pernah menjabat Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lampung (1990-1995), serta Wakil Ketua PW Nahdlatul Ulama (NU) Lampung 1997-2002.

Kolega almarhum, mantan anggota DPD RI 2004-2009 dapil Lampung AA Ben Bella, berbelasungkawa. "Semoga almarhum diampuni semua dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan dilapangkan kuburnya. Amin YRA," tulis akun Facebook-nya, Jum'at petang.

Senada, Ketua DPD Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Lampung Hermansyah GA, Jum'at malam.

"Ikut belasungkawa atas wafatnya Bapak Syafrin Romas. Inshaallah almarhum husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni segala dosanya, diiterangi kuburnya dengan cahaya iman-Nya, dilancarkan dan dilapangkan serta diikhlaskan keluarganya yang ditinggalkannya lahir dan batin. Aamiin," unggahan akunnya.

Satu lagi, jurnalis, aktivis, pegiat sosial, pecinta kuliner, dan pekerja budaya, Adolf Ayatulloh Indrajaya.

"Ikut belasungkawa atas wafatnya Om Syafrin Romas, Insyaallah almarhum husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, dilancarkan dilapangkan segala halnya," ujar Bung Dolop, sapaan Wakil Ketua Bidang Advokasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Lampung ini, Jum'at petang.

"Teruntuk keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ikhlas dan kelapangan lahir dan batin. Aamiin," ia mendoakan.

Pun Jum'at petang, rinai belasungkawa juga disemai Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Tanggamus, Azuwansyah.

"Segenap keluarga besar DPC PKB Tanggamus mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya HA Syafrin Romas," bunyi pesan poster digitalnya.

"Beliau adalah sosok sangat tekun dan gigih, bersahaja dan ikhlas. Semoga amal ibadah dan perjuangan beliau diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," takzim anggota F-PKB DPRD Lampung ini, juga mendoakan.

SPBU Pertamina 24.351.35, Jl Ahmad Yani, Kelurahan Palapa, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, jadi salah satu fasilitas umum peninggalan almarhum.

Diketahui, hingga akhir hayat, Syafrin masih menahkodai tiga perusahaan perseroan terbatas yang ia bangun dari nol, yakni Discola, Sinar Pesisir, dan Pakuon Agung.

Satu lagi, dua buah benda langka nan unik, yang diperoleh semasa hidupnya dari seseorang asal Pulau Madura.

Yakni, Quran dari daun lontar, lengkap terdiri 114 surat di 17 helai tersatukan rekatan kain, bertinta hitam, berukuran panjang 60 centimeter dan lebar 50 centimeter berusia ratusan tahun.

Dan, Quran berbungkus kulit sapi, panjang 50 centimeter dan lebar 40 centimeter, yang dari tulisan halaman terakhirnya, angka tahun 1252 Hijriah, diketahui telah berusia dua abad.

Sisi lain, petuah bijak almarhum medio 2003 yang masih terngiang di benak redaksi, ihwal kesantunan berpolitik, dan meminjam istilah sahabat politik juga gurunya dan guru bangsa, mantan Ketum PBNU, mantan Ketua Dewan Syuro DPP PKB, mantan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Kebenaran tak bisa divoting. Letakkan kemanusiaan di atas politik," petuah almarhum, menirukan Gus Dur, seperti kerap pula disuarakan kembali oleh salah satu putri Gus Dur, Alyssa Wahid.

Selamat jalan, Bang Syafrin. Kiprah juang dan petuah bijakmu, relakan kami jadikan anutan. (Muzzamil)'