Oknum P2TP2A Lamtim Terancam Hukum Mati Dan Pemasangan Alat Deteksi

 DA, oknum petugas Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur (Lamtim) terancam hukuman mati dan pemasangan alat deteksi.


Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad.

Menurutnya, pasal yang dipersangkaan terhadap DA yaitu Undang Undang nomor 23 tahun 2014 dan juga Undang Undang nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak.

"Dimana ancaman hukumannya maksimal 15 tahun bahkan sampai hukuman mati," kata Pandra, sapaannya, Senin (13/7).

Lanjutnya, bahkan ada penambahan di Peraturan Pemerintahan 2016. Jika diterapkan peraturan itu akan dilakukan penyuntikan zat kimia kepada tersangka.

"Apabila memiliki kekuatan hukum tetap dan dibuka identitas tersangka akan dilakukan pemasangan alat deteksi pada pelaku," jelasnya.

Sebelumnya, Polda Lampung telah menerima laporan pada tanggal 3 Juli, saksi korban diperiksa tanggal 7 Juli secara maraton, dan menetapkan tersangka.

"Tersangka itu kita panggil dan cukup kooperatif tersangka bisa hadir untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sehingga tersangka sudah diamankan terhitung tanggal 11 Juli hari Sabtu," ujarnya.

Saat ini NV masih di rumah aman yang dipersiapkan oleh P3A dan LPSK. Tersangka sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Dan proses penyidikan tengah berlangsung untuk mempercepat berkas perkara ini, untuk kita limpahkan ke Jaksa Penuntut Umum. Agar terdakwa segera disidangkan sehingga nanti mempunyai keputusan hukum yang tetap," jelasnya.