Oknum Polisi Bawa Sabu 1 Kg Divonis 7 Tahun, Jaksa Banding

Pembacaan vonis Andrianto/ Faiza Ukhti
Pembacaan vonis Andrianto/ Faiza Ukhti

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang menjatuhkan vonis penjara 7 tahun kepada Andrianto, oknum polisi di Lampung berpangkat AKP atas kasus penyelundupan 1 kg sabu, Kamis (8/4).


Putusan ini jauh lebih ringan dibanding tuntutan jaksa yang menuntut hukuman penjara 18 tahun dan denda Rp1 Miliar atau diganti kurungan 4 bulan. Setelah hakim membacakan putusan, Jaksa Roosman Yusa langsung mengajukan banding. 

Andrianto dinyatakan terbukti terlibat dan melakukan pemuda jahat menjadi perantara dalam penyelundupan sabu seberat 1 Kg ke Lampung yang diungkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung.

Ketua Majelis Hakim Hastuti menjatuhkan denda Rp1 Miliar dengan ketentuan jika tak dibayarkan maka diganti dengan kurungan selama satu bulan.

Menurut Hakim, hal yang memberatkan terdakwa lantaran tidak mendukung upaya pemerintah dalam memberantas peredaran narkotika.

Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa telah menyesali perbuatannya, selama persidangan terdakwa bersikap sopan dan merupakan tulang punggung keluarga.

"Dan juga terdakwa selama mengabdi, telah banyak berjasa terhadap institusi Polri," kata Ketua Majelis Hakim.

Kuasa Hukum Andrianto, Yogi mengatakan hasil vonis cukup memuaskan, namun pihaknya masih memikirkan ulang apakah akan mengajukan banding atau tidak. 

Pasalnya, pihaknya meminta agar kliennya dapat dibebaskan dari tuduhan karena Andrianto tidak mengetahui serta memegang barang tersebut. 

Menurutnya, terdakwa ditangkap BNNP Metro lantaran mengenal saksi almarhum Adi Kurniawan dan terdapat indikasi berbentuk pesan Whatsapp yang diduga transaksi. 

Diketahui, Andrianto diamankan BNNP Lampung setelah melakukan pengembangan terhadap tersangka Adi Kurniawan Kepala Kampung Sukajawa Kecamatan Bumi Ratu Nuban Lampung Tengah.

Adi Kurniawan adalah tersangka pertama yang diamankan setelah menerima sabu seberat satu kilogram yang dikirim langsung dari Pekanbaru, Riau. Adi kemudian berhasil kabur dari Rutan sementara BNNP Lampung.

Adi berhasil diamankan di Palembang, namun karena melakukan perlawanan, petugas akhirnya melakukan tindakan tegas terukur sehingga Adi mengalami pendarahan dan meninggal dunia saat dilakukan pertolongan.