Operasi Sikat Krakatau 2022, Polres Lambar Terbanyak Ketiga Ungkap Kasus

Kapolres Lampung Barat AKBP Hadi Saepul Rahman saat ekspose/ Arif Munandar
Kapolres Lampung Barat AKBP Hadi Saepul Rahman saat ekspose/ Arif Munandar

Selama Operasi Sikat (Ops) Krakatau yang digelar sejak 24 Mei hingga 6 Juni 2022 oleh Polda Lampung dan Polres jajaran, Satreskrim Polres Lampung Barat berhasil mengungkap sebanyak 25 perkara kasus tindak pidana curas, curat, dan curanmor serta penyalahgunaan senpi ilegal.


Rinciannya Curat sebanyak 18 perkara salah satu nya menjadi target operasi (TO) Polda Lampung, Curas sebanyak 2 perkara, Curanmor 4 perkara dan Senpi Ilegal 1 perkara, dan satu kasus yang menonjol yaitu kasus persetubuhan terhadap anak.

Kapolres Lampung Barat AKBP Hadi Saepul Rahman menyampaikan bahwa pada Ops sikat krakatau 2022 Polres menduduki peringkat ketiga ungkap kasus perkara terbanyak setelah Polres Lampung Tengah, dan Polresta Bandar Lampung.

Dari 25 perkara kasus tindak pidana yang berhasil di ungkap oleh Satreskrim Polres Lampung Barat pada Ops Sikat Krakatau 2022 tersebut, Hadi mengatakan pihaknya berhasil mengamankan sebanyak 34 tersangka dari 37 lokasi TKP yang di datangi oleh pihaknya.

"Termasuk hingga keluar daerah seperti Riau, Bogor dan Jakarta untuk menangkap para tersangka, dan barang bukti yang berhasil kita amankan sebanyak 73 unit atau barang yang di dapat dari tersangka," kata AKBP Hadi saat konfrensi perss di halaman Polres Lampung Barat, Selasa (7/6).

Dari 25 perkara yang berhasil di ungkap AKBP Hadi menjelaskan adaa beberapa kasus yang paling menonjol diantaranya satu kasus yang terjadi pada 2013 terjadi pencurian dengan pemberatan yang dilakukan oleh enam pelaku dan otak pelakunya berhasil di tangkap oleh satreskrim Polres Lampung Barat.

"Pelaku berhasil kita amankan di Riau berinisial KA warga Banjit Kabupaten Way Kanan, ini yang menjadi target operasi Polda Lampung, dan lima pelaku lain nya sudah berhasil kita amankan sebelumnya namun 1 sudah meninggal dunia, dan pelaku juga melakukan pemerkosaan terhadap korban pada tahun 2013 lalu dan tahun 2022 berhasil kita tangkap," kata AKBP Hadi

Pelaku akan dikenakan pasal 365 ayat 2 butir 2 dan butir 3 KUHPidana dengan ancaman penjara maksimal 12 tahun penjara.

Kasus yang menonjol selanjutnya yaitu kasus persetubuhan yang dilakukan oleh warga Pekon (Desa) Bumi Agung Kecamatan Belalau berinisial IE terhadap anak angkatnya yang masih berusia 15 tahun hingga hamil yang dilakukan oleh tersangka dikediamannya sejak November 2021 hingga April 2022 sebanyak 20 kali.

"Tersangka sudah kita amankan dan sedang kita lakukan pemeriksaan dan kita tahan yang bersangkutan, dan kita kenakan pasal 76 Juncto ayat 81 UU RI No 17 Tahun 2016 tentang peraturan pemerintah pengganti Peraturan Pemerintah UU No 1 Tahun 2016 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara," tutup AKBP Hadi.