Orang Perlu Tahu Sisi Positif John Kei

Suasana mendadak mencekam. Dari luar rumah terdengar suara rentetan tembakan. John Refra Kei buru-buru mengungsikan keluarganya dari ruang tamu ke dalam kamar. Mencoba mencari perlindungan dan menyelamatkan diri.


Malam itu, Minggu (21/6). Maria Erviliana "Melan" Refra masih mengingat peristiwa mencekam itu.

Putri sulung John Kei itu ketakutan. Ia membayangkan "serangan balasan" dari pihak Agrapinus Rumatora yang biasa dipanggilnya Opa Nus. Juga berasal dari Pulau Kei di Maluku Utara, Opa Nus dikenal dengan sebutan Nus Kei.

Minggu siang sudah terdengar kabar tentang penyerangan yang dilakukan anak buah John Kei ke tempat tinggal Nus Kei di perumahan Green Lake City, Cengkareng, Jakarta Barat. Seorang anak buah Nus Kei, berinisial ER, tewas dengan tujuh luka bacokan senjata tajam.

Bukan itu saja, tubuhnya dilindas kendaraan yang digunakan anak buah John Kei dalam penyerangan. Seorang anak buah Nus Kei lainnya, AR, mengalami luka-luka akibat bacokan. Empat jarinya putus. John Kei disebutkan berada di balik penyerangan itu. Maka, hal pertama yang terlintas di benak Melan Refra saat mendengar suara rentetan tembakan di luar rumahnya malam itu adalah: ini "serangan balasan" dari Opa Nus.

"Aku pikir itu serangan dari pihak sana. Kita kaget di rumah, ketakutan," cerita putri sulung John Kei. Ia menceritakan pengalamannya itu, dilansir Kantor Berita Politik RMOL, Jumat sore (26/6).

Beberapa jam setelah perbincangan, Melan Refra dan tim kuasa hukum John Kei mengunjungi John Kei yang sedang ditahan di Polda Metro Jaya. Kata Melan Refra, ibunya yang memiliki riwayat vertigo juga ketakutan dan bersembunyi di dalam kamar. "Pintu rumah digedor-gedor dari luar," kata Melan Refra. Setelah "mengamankan" anggota keluarganya dan mengetahui bahwa yang melepaskan rentetan tembakan dan menggedor pintu rumah adalah polisi, John Kei keluar untuk memeriksa keadaan.

Tak lama Melan Refra juga keluar kamar menyusul ayahnya. "Saat ditodong pistol, Papaku angkat tangan, tidak ada perlawanan. Di sebelahnya itu adikku. Adikku juga tidak ada perlawanan," ceritanya lagi. Tangan John Kei diborgol. Ia didudukkan di ruang tamu. Sementara anak buah John Kei yang saat penggerebekan berada di sekitar rumah sudah lebih dahulu dilumpuhkan. Mereka telungkup di teras dengan tangan diborgol ke bagian belakang tubuh.

"Saya lihat sendiri Papa diborgol," katanya lagi. Apakah John Kei mengalami perlakuan kasar? "Saya melihat muka Papa seperti habis dipukul. Merah. Terus agak bengkak di kepala, di jidatnya," masih kata Melan Refra. Ia sempat memprotes perlakuan itu.

Pada bagian akhir perbincangan, Melan Refra mengatakan ingin menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa ayahnya yang selama ini dikenal sebagai preman telah menemukan pertobatan ketika menjalani masa hukuman baik di LP Salemba dan LP Nusakambangan. Setelah mendekam selama sekitar enam tahun, John Kei menghirup udara segar pada 26 Desember 2019 lalu.

"Orang-orang perlu tahu perubahan Papa seperti apa," kata Melan Refra. Selain lebih rajin beribadah, John Kei yang baru juga aktif di dalam kegiatan sosial.  

"Sebelum kejadian ini Papa ada kegiatan sosial. Bukannya riya atau bagaimana. Cuma orang-orang perlu tahu segi positif dari Papa. Minggu pagi itu, selesai ibadah, Papa membuat video untuk anak-anak (asal Kei) di Papua," sambungnya.

Dalam rekaman video yang dikirimkan Melan Refra, John Kei yang mengenakan kaos merah dan celana jeans menyampaikan pesan untuk anak-anak Angkatan Mudai Kei (Amkei) yang berada di Jayapura, Papua.

"Saya sebagai ketua umum Amkei  mengucapkan terima kasih kepada adik-adik Amkei di Jayapura yang telah turut menyalurkan bantuan kemanusiaan buat saudara-saudara Kei di Jayapura. Harapan kakak, semoga semua saudara Amkei di Jayapura selalu sehat dan tetap menjaga kerukunan," demikian John Kei.