Corona Datang, Mimpi Buruk Bagi Lampung Berjaya


OLEH NIZWAR AFFANDI

SIANG tadi, Kamis (23/4), mata saya menjadi nanar membaca berita lonjakan penderita positif dan pasien dalam pengawasan (PDP) di Provinsi Lampung.

Secara eksponensial, dalam 24 jam, mereka yang terinfeksi dan terindikasi infeksi Covid-19 naik 11 orang atau 40,74% dalam sehari semalam.

Mengingat Lampung relatif dekat Jakarta, episentrum pandemi Covid-19 di Indonesia--naudzubillahi min zalik--wajar berpotensi terbanyak provinsi di luar Pulau Jawa.

Satu-satunya penjelasan logis mengapa sampai saat ini jumlahnya masih di bawah Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan daerah lainnya, kemungkinan karena keterbatasan sarana.

Akibatnya, kerja-kerja pengujian dan pelacakan Covid-19 belum bisa masif dan agresif sebagaimana yang menjadi keinginan dan amanat Presiden Jokowi.

Walau telah sebulan lebih pasien positif pertama corona terdeteksi di Lampung, provinsi ini masih harus mengirimkan swab pasiennya ke Jakarta atau Palembang.

Lampung belum memiliki fasilitas Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RTPCR) atau tes PCR.

Alat tes yang menyasar langsung pada virus corona, SARS-CoV-2, dan hasilnya dianggap jauh lebih akurat daripada rapid test.

PCR tes ini populer sebelumnya dengan istilah swab tes.

Ketiadaan inilah yang menjelaskan kepada kita mengapa angka kematian PDP lebih banyak daripada kematian pasien positif di Lampung.

Sampai dengan meninggalnya pasien PDP,' masih ada yang belum sempat dilakukan pengambilan sampel swab tes-nya dan atau belum diketahui hasil PCR tesnya.

Dalam kondisi seperti ini, rekomendasi Ketua Umum IDI menjadi kontekstual dan relevan, perlakuan PDP harus disamakan dengan pasien positif Covid-19.

Alhamdulillah ada putra Lampung yg menjadi Menteri BUMN dan memberikan bantuan di saat yg tepat

Semakin cepat bantuan PCR dari Kementerian BUMN dapat diterima dan dioperasikan, Insha Allah pengujian yg masif dan pelacakan agresif juga semakin cepat bisa dilakukan di Lampung.

Bagi saya, apa yang beliau lakukan saat ini jauh lebih bisa dibanggakan ketimbang beberapa nama lain yang sempat kita banggakan karena menjadi menteri atau pimpinan lembaga tinggi negara di dekade ini dan dekade sebelumnya.

Eksistensi mereka di panggung nasional selama ini ternyata telah membentuk ilusi bahwa Lampung sudah jauh berlari lebih cepat dari Sumsel bahkan Sumut.

Kita sudah sempat gede rasa menjadi yang terdepan, termaju dan terbaik di Sumatera bahkan di luar Pulau Jawa.

Banyaknya putra Lampung di panggung nasional ternyata belum cukup menjadi penggerak yang efektif bagi upaya percepatan pembangunan Lampung.

Mungkin terasa simplistis, tetapi bagi saya tidak bisa dibantah 15 tahun terakhir ternyata kita memang masih tertinggal di belakang Sumsel kalau tidak mau dibilang semakin jauh ketinggalan.

Ketertinggalan yang suka tidak suka harus diakui menjadi warisan buruk dua gubernur sebelumnya, yang hampir saja bisa jadi jika tidak ada pandemi ini ketertinggalan itu pun nyaris dilanjutkan oleh gubernur yang sekarang.

Pandemi corona membangunkan tidur kita bahwa visi gubernur sebelumnya, Lampung TOP di Sumatera dan visi gubernur yang sekarang Lampung Berjaya di Sumatera, ternyata masih perlu kerja keras luar biasa jika tidak mau berakhir hanya menjadi mimpi-mimpi saja.

Hari-hari ini, corona mengajarkan kepada kita bahwa mungkin memang menyenangkan jika bisa menjadi yg "ter" di Sumatera atau di luar Pulau Jawa.

Kita harus buktikan mampu tegak berdiri di atas kaki sendiri, melindungi segenap rakyat Lampung dengan memenuhi semua kebutuhan dan sarananya tanpa harus selalu menunggu bantuan Pemerintah Pusat.

Minimal, pemerintah daerah ini berani bertarung dengan provinsi tetangga untuk mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah Pusat.

Berada di shaf pertama bersama provinsi-provinsi dari Pulau Jawa, menjadi relatif sama pentingnya seperti mereka di mata Pemerintah Pusat.

Dan, jangan lagi masuk ke rombongan berikutnya bersama-sama provinsi yang jumlah penduduk, luas wilayah maupun posisi geostrategisnya tidak sekelas dengan bobot yang kita punya.

Tentu, dengan keterbatasan keuangan daerah ini, kita mesti bersabar dan tidak mungkin berharap semuanya diselesaikan dalam tempo waktu yang bersamaan.

Karena itu, kemampuan menentukan pilihan prioritas menjadi sangat penting dalam kualitas kepemimpinan di daerah.

Hari ini, pandemi memaksa kita mengarus utamakan bidang kesehatan masyarakat, mungkin setelah ini kita akan masuk ke kemandirian pangan, energi dan bidang-bidang lainnya.

Apapun itu, kita perlu mensyukuri hikmah karena telah dibangunkan dari ilusi yg menjadi mimpi tidur kita.

Biisa jadi, kita memang sudah berlari kencang selama 15 tahun ini, tetapi tampaknya belum cukup kencang jika ingin mengejar ketertinggalan.

Apalagi melampaui mereka yang berada di depan kita. Jika kualitas komunikasi Gubernur Lampung dengan Menteri BUMN terkait PCR tes itu bisa menjadi benchmark dalam komunikasi beliau dengan menteri-menteri dan pihak-pihak lainnya.

Insha Allah Lampung akan berlari jauh lebih cepat lagi. Wallahualam bishowab.

(*) Ketua Ormas MKGR Provinsi Lampung