Pedagang Tradisional Di Bandarlampung Menolak Divaksin Lantaran Takut

Vaksinasi pedagang di Pasar Bambu Kuning/ Tuti Nurkhomariyah
Vaksinasi pedagang di Pasar Bambu Kuning/ Tuti Nurkhomariyah

Beberapa pedagang tradisional di Kota Bandarlampung menolak divaksinasi Sinovac lantaran takut.


Yati (40) salah satunya, pedagang Pasar Smep ini mengaku takut jarum suntik. 

"Takut juga nanti malah tertular Covid-19 jika divaksin. Apalagi itu yang divaksin ramai," kata Yati kepada Kantor Berita RMOLLampung, Kamis (8/4). 

Sementara, Safeii (40) pedagang Pasar Pasir Gintung mengaku tidak tahu jika hari ini dilakukan vaksinasi, menurutnya selama ini dari PD Pasar maupun Dinas Perdagangan tidak pernah melakukan pendataan. 

"Mungkin disini belum waktunya divaksin, masih bagian pedagang Pasar Bambu Kuning," ujarnya. 

Walaupun begitu, Safeii mengaku tidak mau divaksinasi lantaran kehalalan vaksin masih dipertanyakan, takut jika vaksin mengandung babi. 

"Saya enggak vaksin deh, karena kita gak tahu steril enggak nya, kabarnya tidak halal karena mengandung babi," ujarnya. 

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandarlampung, Adiansyah mengatakan yang divaksin hari ini adalah pedagang yang mau divaksin. 

Sementara pedagang yang belum divaksin akan dilakukan pendataan kembali sambil menyosialisasikan lagi. 

"Kita sudah melakukan pendataan sekaligus melakukan sosialisasi, namun ada beberapa yang pemikirannya berbeda, kita juga tidak bisa memaksakan itu," jelasnya. 

Diketahui, Dinas Kesehatan Edwin Rusli menyebutkan ada 1100 pedagang yang akan divaksin hari ini. Yang mana 1100 pedagang tersebut akan divaksin di 10 lokasi.

Bila dirincikan, 10 titik tersebut yaitu Pasar Tani, Pasar Tempel Waydadi, Pasar Panjang, Pasar Wayhalim, Pasar Cimeng, Pasar Bambu Kuning (Pasar Smep dan Pasir Gintung), Pasar Kangkung, Pasar bawah Ramayana, Pasar Tempel Kemiling dan Pasar Tugu.

Menurutnya, bagi pedagang yang belum divaksin hari ini, bisa datang ke puskesmas dekat rumahnya masing-masing. 

"Tentunya dengan membawa fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP)," ujarnya.