Peluru Itu Bernama Alpin


ALPIN Andrian (24) tiba-tiba menjadi seperti "proyektil peluru" ketika mendengar suara Syekh Ali Jaber dari pengeras suara masjid dekat rumahnya di Kota Bandarlampung, Minggu (13/9).

Dia menyambar senjata tajam dan secepat kilat menuju lokasi untuk menancapkannya sekuat tenaga sampai gagangnya patah dan pisaunya tertinggal di lengan ulama besar tersebut.

Indonesia terkejut dan penasaran atas peristiwa yang terjadi terhadap ulama dunia asal Madinah yang sudah 12 tahun mewakafkan dirinya untuk para penghapal Alquran dan syiar Islam di negeri ini.

Alasan gila, halusinasi, dan pelaku tunggal tak bisa meredam dugaan liar banyak orang dan tokoh dari kemungkinan ada yang meremote sang pelaku sampai menjadi seperti "mesin pembunuh" yang agresif.

Syekh Ali Jaber yang ceramahnya selalu terdengar sejuk dan bercita-cita Indonesia menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr juga berkeyakinan pelakunya sudah terlatih.

Beberapa masyarakat dan tokoh, seperti Ustad Yahya Waloni berkeyakinan aksi yang dilakukan Alpin bagian dari by design teror terhadap para pemuka agama yang menghendaki makin islaminya negeri ini.

Terlepas dari berbagai spekulasi dugaan motivasi Alpin dan kemungkinan ada yang meremotenya, pengakuan sang pelaku kepada aparat kepolisian menarik disimak.

Menurut Kasat Reskrim Polres Kota Bandarlampung Kompol Rezky Maulana, Alpin mengaku telah menyimak ceramah Syekh Ali Jaber setahun belakangan ini lewat media sosial.

Anehnya, menurut saya, Alpin kok bukannya memeroleh pencerahan malah bertindak kriminal ketika mendengar suara ustad besar itu dari pengeras suara masjid.

Dia menjadi bak proyektil peluru meluncur ke atas panggung untuk mungkin "membunuh" Syekh Ali Jaber.

Alpin mengaku kesal mendengar suara Syakh Ali Jaber. Dalam pikirannya, dia mengaku selalu terbayang-bayang dengan Syekh Ali Jaber sehingga melakukan aksi di luar akal sehat.

Contoh kecil lain pernah terjadi di Kota Bandarlampung, seorang anak gangguan mental melakukan permintaan kawan-kawannya terbang pakai payung dari tower masjid.

Peristiwa tersebut keisengan kawan-kawannya, bagaimana jika hal semacam ini dilakukan secara sistematis oleh mereka yang memiliki visi, misi, dan target tertentu? 

Pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi kita, utamanya aparat atas kecurigaan banyak pihak Alpin tak lebih adalah selongsong proyektil peluru yang ditanamkan dalam alam bawah sadarnya.

Adolf Hitler, pemimpin Nazi, tahun 1938, berhasil memengaruhi anak-anak muda, prajurit, dan aparat pemerintah dalam upayanya membangkitkan anti-Semit (anti Yahudi) lewat cuci otak (brainwash).

Salah satu caranya, mereka memperdengarkan berulang-ulang kebanggaan terhadap Adolf Hitler sebagai pemimpin Nazi dan anti-Semit lewat radio dan pengeras suara ke seantero Jerman.

Jaringan teroris ISIS juga melakukan cuci otak dengan salah satunya penggunaan media sosial dalam merekrumen sekaligus menanamkan ideologi terorismenya.

Media Inggris The Sun melaporkan bagaimana kuatnya pencucian otak yang dilakukan ISIS lewat media sosial terhadap model Inggris Kimberley Miner (29).

Sang model bisa berubah dari gadis yang glamour, suka berpose, sampai menjadi "mesin pembunuh" ISIS berawal dari curhatnya ke seseorang lewat medsos.

Dua tahun lalu, 2018, Jenderal Suhardi Alius sebagai kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) telah mengingatkan hal semacam ini di Semarang, Jawa Tengah.

Sel-sel teroris mampu melakukan brainwashing melalui media sosial sampai terbukti bisa menghasilkan pelaku teror bom bunuh diri secara mandiri atau dikenal sebagai lone wolf.

Menurut dia, di era teknologi ini, cuci otak bisa dilakukan secara daring sampai memengaruhi pemikiran seseorang untuk melakukan hal-hal yang destruktif.

Cuci otak, dalam Wikipedia, adalah upaya pembentukan ulang tata berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu menjadi sebuah tata nilai baru dari  indoktrinasi dalam psikopolitik.

Prosesnya bisa relatif singkat dan algoritme media sosial mendukung proses echo chamber effect atau efek ruang gema sehingga pelaku seperti katak dalam tempurung yang gampang diubah perilakunya. 

Tentu saja, ruang gema ini bisa menjadi sangat berbahaya jika pesan yang sesat akhirnya dipercayai atau diyakini nenjadi kebenaran mutlak oleh korbannya.

Cukup efektifkah melakukan pencegahan dengan mengatakan sang pelaku gila, halusinasi, pemain tunggal, atau berbagai himbauan lainnya?

Sudah banyak peristiwa penganiayaan yang menyasar ustadz, antara lain KH Umar Basri yang dipukul orang gila berpakaian rapi di Cicalengka, Jawa Barat.

Ustadz Prawoto, komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) Cigondewah, Kota Bandung yang dianiaya hingga tewas oleh orang gila berpakaian rapi.

Santri Pondok Pesantren Al-Futuhat Garut berinisial Abd alias Uloh diserang oleh enam orang gila tak dikenal menggunakan senjata tajam.

Seorang pemuda yang bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal 1 Kota Bandung mengacung-acungkan pisau seraya berteriak-teriak: ustadz bukan ... ustadz bukan?!.

Seorang perempuan mondar-mandir selama dua hari bawa sajam dan plat besi di sekitar Pondok Pesantren Fajrul Islam, Sentul City Bogor.

Ulama Bogor, Ustadz Sulaiman dibacok orang gila di Desa Cigudeg.

Pengasuh Ponpes Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan KH. Abd.Hakam Mubarok pernah diserang orang gila.

Siapapun yang barangkali ada yang meremote atau adanya spekulasi berbagai teori konspirasi, para ustadz tak ada yang gentar oleh peristiwa-peristiwa kekerasan yang sepertinya muncul setiap situasi politik sedang panas.

Syekh Ali Jaber yang relatif tidak kontroversial bahkan cendrung sejuk dalam dakwahnya telah menjadi korban penusukan oleh seorang pemuda yang belum jelas motivasinya. 

Tapi, ulama besar tersebut tidak trauma. Beberapa jam setelah peristiwa, beliau sudah kembali memberikan tauziah di masjid dan hingga kini terus mensyiarkan nilai-nilai Islam.

Jika aksi-aksi yang dilakukan "orang gila" itu dimaksudkan sebagai teror, maka dapat dikatakan gatot (gagal total). Syekh dan ribuan ulama lainnya tak pernah takluk oleh teror.

Yang luput dari perkiraan orang yang mungkin jadi sutradaranya, perjuangan dakwah para ustadz itu cuma satu tujuannya, yakni ridho-Nya.

Mereka sudah mewakafkan diri untuk menyampaikan pesan-pesan Alloh SWT lewat Alquran dan teladan Nabi Muhammad AS.

Semoga negeri kita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr,  negeri yang selaras antara kebaikan alam dan kebaikan perilaku, subur-makmur, dan selalu bersyukur. Amiiin.

* Plt Ketua Jaringan Media Siber Indonrsia (JMSI) Lampung