Pendapatan Perajin Batik Tulis Lampung Anjlok 60% Sejak PPKM

Perajin batik tulis Lampung, Sulastri/Ist
Perajin batik tulis Lampung, Sulastri/Ist

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) turut berdampak pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perajin batik tulis di Kota Bandarlampung, Lampung.


Mereka mengalami penuruan pendapatan yang sangat drastis karena wisatawan atau pelancong yang datang ke Lampung dibatasi kedatangannya selama penerapan kebijakan tersebut berlaku.  

Salah satu pedagang batik tulis Lampung As-Syafa, Sulastri mengungkapkan, selama PPKM penghasilannya dari berjualan batik sangat merosot. Pendapatan turun sekitar 60 persen dari hari biasa sebelum PPKM.

"Selama PPKM penjualan berkurang dan otomatis kapasitas produksi juga berkurang banyak," ungkap dia kepada Kantor Berita RMOLLampung, Minggu (29/8).

Pada kondisi normal, kata Sulastri, pendapatan dari penjualan batik miliknya bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp9 juta per bulan. 

Omzet itu anjlok menjadi Rp2 juta per bulan saat PPKM diterapkan. "Sebelum PPKM sekitar 9 juta, sekarang sekitar 2 juta," kata dia.

Ia mengaku sebelum  adanya kebijakan PPKM pihaknya mampu memproduksi sekitar 40 lembar kain batik tulis (per bulan), namun karena kebijakan tersebut produksi kain batik turun sekitar 15 sampai 20 lembar per bulannya.

"Sekitar 40 lembar sebulan tapi PPKM jadi sedikit. Untuk  harga per lembar kain berbeda-beda, kalau batik warna alami 500-850 ribu per lembar kalau sintetis dari 300-850 ribu per lembarnya," katanya.

"Waktu bulan juni itu alhamdulillaah abis semua kain batiknya, tapi terus PPKM jadi hanya sedikit yang terjual sehingga pendapatan sayapun turun," timpal Sulastri.

Meskipun demikian, ia terus bersabar dan mengambil hikmah dari semua kebijakan pemerintah karena tujuan mereka menerpakan PPKM untuk melindungi rakyatnya. 

"Tapi ya memang harus ambil hikmahnya. Pasti sudah jadi keputusan terbaik dari pemerintah makanya menerapkan PPKM ini," tegasnya. 

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia Perwakilan Lampung dari 2.900 pelaku UMKM yang mengikuti survei sebanyak 89 persen terdampak pandemi Covid-19, telah ada 60 hingga 70 persen yang memanfaatkan digitalisasi UMKM.