Penganiayaan Sebagai Tradisi Hingga Rokok di LPKA Tegineneng, Kadivpas Akui Kecolongan 

Kadivpas Kemenkumham Lampung Farid Djunaidi/ Kusmawati
Kadivpas Kemenkumham Lampung Farid Djunaidi/ Kusmawati

Pengakuan empat tersangka di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIA Tegineneng, Pesawaran  yang menyebabkan tewasnya RF (17), mengakui kalau pemukulan dilakukan karena tradisi kepada anak yang baru masuk sel Blok E No 09 Wisma Edelwys.


Pemukulan dilakukan secara bergantian, walaupun korban sudah minta tolong tapi para pelaku tetap menghajar korban. Bahkan tangan korban disunduti rokok. Padahal, seharusnya rokok barang terlarang masuk lapas anak-anak. 

Saat media menanyakan kepada Kadivpas Kemenkumham Lampung Farid Djunaidi, terkait pengawasan yang dilakukan mengingat kejadian pemukulan itu terjadi sore hari, pihaknya mengakui bahwa kurangnya pengawasan sehingga kasus ini terjadi untuk kedua kalinya.

"Ini koreksi bagi kami agar ke depannya bisa lebih intensif lagi melakukan pengawasan terhadap anak anak. Adapun keberadaan rokok kami masih melakukan pemeriksaan kepada petugas lapas asal rokok yang seharusnya tidak diperbolehkan masuk di lapas anak," ungkap Kadivpas.

Sementara itu, Ketua Tim Forensik RS Bhayangkara dr Jims Ferdinan Tambunan.Sp,F, ditemukan hampir di sekujur tubuh korban luka memar dan lecet dan kepala korban juga mengalami pendarahan.

Ke-4 tersangka penganiayaan tersebut berinsial IA (17) warga Tanggamus, NP (17) warga Bandarlampung, RP (17) warga Lampung Utara, dan DS (17) warga Way Kanan.

Mereka melakukan penganiayaan terhadap RF yang dilakukan di Kamar E 09 Wisma Edelwis LPKA Pesawaran Lampung setempat.

"Dari hasil Scientific Crime Investigation oleh Penyidik Ditkrimum dinyatakan empat tersangka melakukannya di waktu yang berbeda pada tanggal 28 Juni dan 09 Juli 2022 sore di kamar E 09 wisma edelweis LPKA Pesawaran Lampung.

Upaya yang telah dilakukan kepolisian saat ini dalam penanganan kasus tersebut yaitu pemeriksaan 21 saksi-saksi, ahli, juga dilakukan pra rekontruksi pada 15 Juli 2022 di LPKA Pesawaran, melakukan otopsi korban di Pemakaman Darussalam Langkapura pada tanggal 20 Juli 2022, yang dililakukanTim Forensik RS Bhayangkara yang diketuai oleh dr Jims Ferdinan Tambunan, Sp.,F dihadiri oleh LBH dan keluarga korban ABH (RF17) dan juga melakukan penyitaan barang bukti berupa berkas-berkas, pakaian korban, dan berkas visum, guna melengkapi alat bukti dan adanya kepastian hukum, keadilan serta kemanfaatan.

"Atas perbuatan tersebut, empat tersangka dijerat dengan Pasal 80 ayat (3) juncto, Pasal 76C, Pasal 80 ayat (2) juncto Pasal 76C, Pasal 80 ayat (1) juncto, Pasal 76C UU NO.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No.23 Tahun 2022 tentang perlindungan anak dengan ancamam kurungan penjara selama 15 tahun," ungkapnya.