Penjelasan UTI Soal Putusan DO 3 Mahasiswa Teknik Sipil

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Teknokrat Indonesia, Auliya Rahman Isnain/ Tuti Nurkhomariyah
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Teknokrat Indonesia, Auliya Rahman Isnain/ Tuti Nurkhomariyah

Tiga mahasiswa Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) di drop out (DO) atau dikeluarkan lantaran tiga semester berturut-turut Indeks Prestasi Komulatif (IPK) di bawah dua.


Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Auliya Rahman Isnain mengatakan UTI memiliki aturan apabila memasuki semester akhir, IPK di bawah dua selama tiga semester berturut-turut maka dikenakan DO. 

"Selain itu mereka juga melanggar kode etik UTI dengan mencemarkan nama baik UTI. Aktifitas mereka berkumpul di gang itu yang menyebabkan pihak kampus dipanggil RT dan kelurahan, sehingga ini menimbulkan citra buruk bagi Teknokrat," kata Auliya saat ditemui di ruang rapat, Kamis (15/4). 

Menurutnya, pelanggaran kode etik dengan mencemarkan nama baik UTI bermula sejak dua tahun lalu, dimana mahasiswa Teknik Sipil UTI memutuskan mencari lahan sekitar kampus untuk dijadikan sekretariat dengan izin lahan warga.

"Jadi di sini kalau mereka mendapatkan izin itu mereka tidak mendapatkan izinnya karena lahan itu ada gang milik negara bukan warga atau siapapun. Gang itu menuju taman Masjid Asmaul Yusuf UTI yang mereka kuasai untuk dijadikan sekretariat," ujarnya. 

Namun, kata Auliya, sekelompok mahasiswa tersebut tidak tercatat dalam struktur organisasi manapun di UTI, itu murni atas individu mereka sendiri. 

"Tanggal 31 Januari 2021, gang tersebut telah ditutup oleh Kelurahan Kedaton, bukan pihak kampus, karena gang itu milik negara. Namun pada 9 Februari 2021 gang itu dibuka kembali oleh mereka, padahal kesepakatan sebelumnya gang tersebut tidak boleh digunakan lagi," jelasnya.  

Lalu, 17 Februari 2021 dikeluarkan surat DO. Auliya mengaku pihak kampus tidak pernah memberikan surat peringatan secara resmi sebelum men DO, hanya berupa teguran secara langsung. Baik ditegur dari RT, Kelurahan, Babinkamtibmas, Satpam UTI, Dekan sebelumnya, bahkan hingga rektor. 

"Gak harus teguran secara tertulis, teguran lisan juga masuk peringkat keras. Sudah dari tahun 2019 anak-anak ini sudah sering sekali dipanggil dan diperingatkan secara langsung," ujarnya. 

Sementara, 6 mahasiswa yang diskorsing adalah mereka yang terlibat dalam aktivitas gang tersebut, yang meresahkan masyarakat. 

"Kan sudah jelas ditutup oleh kelurahan malah dibuka kembali. Sehingga kalau ini masih dibiarkan maka akan memunculkan sifat-sifat atau membangun jiwa ekstrim dan radikalisme. Sehingga dari situ kami berikan skorsing," jelasnya.