Perang Kota, Adu Gerot Dan Taktik


PILKADA Kota Bandarlampung paling menarik perhatian banyak pihak. "Backing" para calonnya juga gerot-gerot untuk memperebutkan kekuasaan di pusat kota pemerintah Provinsi Lampung.

Hingga H-3 dibukanya pendaftaran ke KPU Kota Bandarlampung, ada tiga calon yang sudah siap duel: Eva Dwiana-Dedi Amrullah, Yusuf Kohar-Tulus Purnomo, dan Rycko Menoza-Johan Sulaiman.

Sedangkan calon independen, Ike Edwin-Zam Zanariah, masih berjuang bisa ikut tarung. Senin (31/8), mereka menyerahkan perbaikan data dukungan suara kepada Bawaslu Kota Bandarlampung.

Saat ini, Eva-Dedi siap naik gelanggang bersama PDIP (9), Nasdem (5), dan masih menunggu Gerindra (7). Andai Gerindra lepas ke Yusuf seperti PKS (6) ke Rycko, tak masalah, masih 10 kursi. 

Menurut petinggi PDIP yang ada di DPRD Lampung, Nasdem sudah "dikunci" bersama PDIP di Pilkada Kota Bandarlampung 2020. Mereka dijadwalkan mendaftarakan Eva-Dedi ke KPU, Jumat depan (4/9).

Yusuf-Tulus yang paling aman bersama Partai Demokrat (5), PAN (6), PKB (3), Perindo (2), PPP (1). Mereka sudah mengantongi Formulir B1-KWK dari partai-partai tersebut.

Rycko yang didukung Partai Golkar yang nyaris tegambui  ketika PKS memberikan rekom ke Eva-Dedi, Senin malam (17/8), piil-nya pulih ketika PKS berbalik kembali berikut Johan Sulaiman sebagai wakil wali kota.

Dengan mobil dinas plat BE-1 dan jengkol gubernur, Arinal menyerahkan Formulir B1 KWK di Sekretariat DPD Partai Golkar Lampung, Selasa (2/9). Beredar lewat medsos, foto B1 KWK dari PKS. 

GEROT

Semua kandidat bukan calon kawe-kawe. Mereka gerot-gerot. Di belakang mereka, ada "petarung-petarung hebat". Tinggal, bagaimana para calon adu taktik agar memenangkan perang kota.

Di belakang Eva Dwiana, ada Herman HN, wali dua periode Kota Bandarlampung. Herman HN yang tak cuti ketika berlangsung pilkada pasti berusaha membantu isterinya, minimal doa. 

Di belakang Rycko Menoza, ada mantan gubernur Lampung dua periode, Sjachroedin ZP. Tak mungkin, Sjachroedin hanya berpangku tangan membiarkan putra sulungnya bertarung sendiri.

Di belakang Yusuf Kohar, ada mitra lamanya, Purwanti Lee. Bos Sugar Group ini sukses mengantarkan dua gubernur Lampung: Ridho Ficardo tahun 2014 dan Arinal Djunaidi tahun 2018.

Jika sukses bisa ikut kontestasi, calon independen, Ike Edwin yang berpasangan dengan Zam Zanariah sudah gerot. Ike adalah jenderal purnawirawan polisi bintang dua yang pernah menjadi kapolda Lampung.

Ditambah atribut tokoh adat, Ike tambah gerot terutama di kantong-kantong masyarakat pesisir Kota Bandarlampung: Negri Olokgading, Gedungpakuon, Kuripan, Negeri, Sukamaju, Kedamaian, Rajabasa, dll.

TAKTIK

Tinggal, adu taktik bagaimana menguasai massa saat pandemi Covid-19 di Kota Bandarlampung. Diperkirakan, Kota Bandarlampung menjadi medan pertempuran perang kota paling sengit. 

Saat pandemi Covid-19, mobilisasi massa lewat acara jalan sehat dengan hadiah spektakuler seperti mobil dan sepeda motor atau mendatangkan artis top kemungkinan agak sulit.

Jika Eva tak ada yang "menculik" lagi partainya dan bisa ikut pertarungan, sulit rasanya lawan-lawannya jika hanya mengandalkan mobilisasi mesin perang besar-besar untuk menguasai kota. 

Pilihannya, bagaimana mencari taktik perang kota paling efektif menaklukan lawan. Pertempuran harus dari satu blok ke blok lain, dari satu RT ke RT lain, dari rumah ke rumah.

Perlu pasukan-pasukan kecil khusus untuk menguasai elemen-elemen masyarakat, bila perlu tebar sniper ke setiap sudut kota untuk membidik simpul-simpul massa. 

Perang kota itu sudah terasa pemanasannya sejak bulan lalu. Dua tim sukses bakal calon kepala daerah, Rycko Menoza dan Yusuf Kohar, dihadang camat, lurah, RT berikut perangkatnya.

Namun, Yusuf Kohar diam-diam cepat bermanuver mengubah taktiknya dengan sistem membangun pos-pos pertahanan yang ditebar di beberapa titik. Silent operasional.

Mereka tak lagi menyerang massa secara terbuka dengan sembakonya. Warga yang akhirnya berinisiatif menyelinap untuk memeroleh apa yang mereka butuhkan pada masa pandemi Covid-19 ini ke pos-pos mereka.

Ada lagi strategi calon lainnya, satu tim disiapkan untuk debat kusir dengan aparat (camat, lurah, RT), tim lainnya menyisir dari rumah ke rumah untuk membagikan sembako salam kenal.

Setelah tim yang membagikan sembako salam kenal selesai, tim debat balik badan sambil dadah. Aparat merasa menang bisa mengusir dengan bukti video HP.

Pertempuran belum resmi dimulai, masih banyak kemungkinan taktik yang bakal bermunculan dari para calon untuk menjebol benteng pertahanan Eva Dwiana yang terbukti paling banyak didukung rakyat.

Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Provinsi Lampung 2019, Bunda Eva, sapaan akrab Eva Dwiana, meraih 86.258 suara atau lebih dari separuh suara PDIP di Dapil Lampung I Bandarlampung (146.294 suara).

Perolehan suara ini sekaligus menempatkan Bunda Eva sebagai caleg dengan perolehan suara tertinggi di DPRD Provinsi Lampung.

Belum lagi, warga yang berterimakasih dengan kepemimpinan Herman HN selama dua periode ini: jalan layang, kebersihan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain yang bersifat pelayanan masyarakat.

Tak heran, berdasarkan hasil survey simulasi internal salah satu dewan pimpinan pusat salah satu partai besar, peluang suara; Eva 60% lebih, Yusuf 24-25 persen, dan Rycko 10-11%.

Ditambah, dua kandidat yang sudah dipastikan maju, Rycko Menoza-Johan Sulaiman dan Yusuf Kohar-Tulus Purnomo, belum menjadi media darling seperti halnya Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil.

Mungkin, bagi Eva, larinya rekom PKS ke Rycko-Johan tak begitu mengkhawatirkan. Sejak 2005,  PKS belum pernah berhasil mengantarkan kadernya jadi kepala daerah di Lampung.

Beda jika Rycko-Kherlani dengan menarik Partai Gerindra. Kherlani memiliki basis yang sama dengan Eva yang "dibeking" petahana, yakni memiki pendukung di birokasi dan rakyar kota ini.

Di birokrasi dan masyarakat Kota Bandarlampung, Kherlani sempat dikenal baik, ramah, supel, dan yang paling menyegarkan adalah tak suka marah-marah selama jadi sekda maupun saat mendapingi Edi Sutrisno sebagai wali Kota Bandarlampung (2005-2010).

Yang penting bagi Eva, PDIP tetap mengakuinya mampu menguasai suara di Kota Bandarlampung. Andaikata salah satu antara Nasdem atau Gerindra pindah ke lain hati, mungkin tak masalah juga.

Di Kota Bandarlampung, PDIP sudah mencetak hatrick tiga kali berturut-turut memenangkan pilkada, yakni 2005 Eddy-Kherlani (2005), Herman-Thobroni (2010), dan Herman-Yusuf (2015).

Eva menguasai Kota Bandarlampung. Apalagi calon lebih dari dua. Posisi ini makin menguntungkan buatnya. Perang kota bakal adu gerot dan taktik.

Eva bukan tidak mungkin dikalahkan, semua kemungkinan bisa walau beliau dan suaminya telah teruji beberapa pemilihan, termasuk pilpres, cukup tangguh menguasai suara kota.

Untuk menaklukanya, harus ada taktik dan strategi yang tak lagi konvensional, harus out of the box agar bisa menerobos pertahanan kuat Eva.

Perang kota bakal sengit, tak bisa cuma sekadar tebar janji dan sembako.

Dalam teori Bordieu (1984), ketika terjadinya konfrontasi diperlukan field of forse, yaitu bagaimaa mengolah kondisi tak menyenangkan rakyat untuk bangkit menyonsong perubahan.

Faktor lainnya yang juga sangat penting adalah apa yang disebut teori contentious politic (McAdam, Tilly) yang diolah oleh media yang dekat dengan masyarakat (TV, koran lokal, radio dll).

Lalu, struktur peluang politik (political opportunity) yang juga biasanya berkelindan dengan kepentingan ekonomi elit. 

Site politik bernama pemilihan wali kota adalah ajang paling startegis untuk menghasilam kekuatan bargaining baru akan apa yang menjadi concern publik dalam persoalan tata kota dan kebijakannya. 

Kedua teori tersebut yang akan menjelaskan bagaimana transformasi ketidakgembiraan masyarakat menjadi suatu gerakan sosial bahkan tuntutan ekstrem perubahan lewat pilwalkot.

Masih banyak lagi teori yang bisa diterapkan dalam taktik perang kota dalam Pilwakot Bandarlampung. Tinggal, taktik apa yang paling jitu mau dipakai di Kota Bandarlampung.

Masih ada waktu mengatur taktik dan strategi perang kota.

Walau, Herman HN sudah membunyikan terompet perang anti-money politics, antisembako politik lewat ceramah Ustad Das'ad Latief melalui pengeras suara di setiap perempatan lampu merah selama 24 jam.

Perang kota memang tak kenal waktu dan harus bergerak senyap. Untuk melumpuhkan musuh, perlu penguasaan emosi tingkat tinggi, tenaga serta amunisi lebih banyak karena harus melihat kamar demi kamar. Selamat pesta demokrasi.

* penulis