Perempuan Nelayan Di Cungkeng Khawatir Digusur Akibat Program Kotaku

Diskusi publik perempuan nelayan/Tuti
Diskusi publik perempuan nelayan/Tuti

Perempuan nelayan di Teluk Bone Cungkeng, Kota Karang, Teluk Betung Barat mengaku khawatir akan mengalami penggusuran akibat proyek investasi dan pembangunan Kotaku (kota tanpa kumuh). Hal tersebut disampaikan saat dialog publik yang digelar SP Sebay Lampung di PKBI, Rabu (9/11).


Ketua Dewan Pengawas SP Sebay Lampung, Umi Laila mengatakan hampir 60 persen perempuan di wilayah Sukaraja dan Cungkeng terlibat dalam produksi nelayan disektor perikanan. Sehingga ketika dilakukan penggusuran maka akan banyak perempuan nelayan tersingkirkan. 

“Dialog ini bertujuan lebih ke bagaimana perempuan nelayan dapat diakui dan mendapatkan perlindungan. Alhamdulilah kegelisahan SP Sebay Lampung terhadap nasib Cungkeng yang akan digusur tidak terjadi,” kata Umi Laila. 

Menurutnya, berdasarkan hasil dialog dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung menyatakan bahwa Cungkeng masuk daerah pemukiman, sehingga tidak akan dilakukan penggusuran. 

“Kita sedikit lebih tenang, walaupun ada penataan tapi tidak akan ada penggusuran,” ujarnya. 

Selain itu, kelompok perempuan nelayan juga meminta kepada pemerintah untuk memberikan bantuan. Pasalnya Cungkeng memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM dan wisata. 

“Potensinya cukup besar, kelompok perempuan nelayan juga punya produk olahan krupuk cumi dan ebi. Sehingga perlu dibantu pelatihan dari pemerintah,” jelasnya. 

Sementara itu, Pembina Mutu Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung, Galih Anugrah menegaskan jika program Kotaku akan berakhir tahun ini dan tidak ada program pembangunan dan penggusuran. 

“Program Kotaku itu untuk merebah apa yang belum layak dan sesuai kebijakan wali kota konsep membangun tanpa menggusur,” ujarnya. 

Sementara untuk pemberian bantuan, pihaknya mempersilahkan warga untuk mengajukan, nanti akan dicarikan bantuan yang cocok sehingga tetap sasaran. 

“Nanti kami akan cocokan mana program yang tepat, karena harus terdaftar dahulu sebagai pelaku usaha. Kemarin banyak bantuan tapi tak kegunaan, ada yang jual, tidak dipakai. Harus kami saring kembali agar tetap sasaran,” jelasnya.