Peringatan Nizwar Terbukti, Neraca Perdagangan Lampung Turun




Nizwar Affandi sudah memberikan early warning terkait trend neraca perdagangan Lampung yang kurang menggembirakan sejak akhir tahun 2019.

Akhir tahun lalu, 1 Desember 2019, lewat Kantor Berita RMOLLampung, ketua MKGR Lampung, menulis opini berjudul Menimbang Neraca Perdagangan Lampung Berjaya.

Dalam tulisannya, kader Partai Golkar Lampung ini mengingatkan kemungkinan negatifnya neraca perdagangan di bawah kepemimpinan Gubernur Arinal Djunaidi.

Prediksi Nizwar Affandi terbukti, BI Lampung melansir perlambatan ekonomi daerah ini akibat turunnya konsumsi rumah tangga dan kinerja negatif sektor eksternal.

"Saya sudah memberikan early warning terkait trend neraca perdagangan Lampung yang kurang menggembirakan sejak 1 Desember lalu," ujar Nizwar Affandi.

Kekhawatiran itu terbukti, katanya, pandemi corona turut memberikan pukulan yang amat keras terhadap perekonomian Lampung.

"Walaupun dengan terhuyung-huyung, Pemprov Lampung harus segera bangkit agar tidak jatuh terpukul KO," ujarnya kepada Kantor Berita RMOLLampung, Selasa (26/5).

Menurut dia, APBD sebagai instrumen fiskal yang berfungsi menstimulus geliat ekonomi mesti segera dioptimalkan.

Ekspose BI menjadi peringatan serius, pertumbuhan kita secara spasial berada di bawah rata-rata nasional dan rata-rata Sumatera, katanya.

"Pertumbuhan ekonomi Lampung anjlok dari posisi ke-2 atau ke-3 selama tahun-tahun sebelumnya menjadi urutan ke-8 di Sumatera," ungkap Nizwar Affandi.

Menurut dia, penanganan dampak sosial-ekonomi akibat pandemi Covid-19 mesti segera dirumuskan dan dijalankan Pemprov Lampung.

Sebelum pertumbuhan menyentuh zona negatif dan semakin sulit untuk melakukan rebound, tandas Nizwar Affandi.

Direktur KPw BI Provinsi Lampung Budiharto Setyawan menjelaskan secara sektoral perlambatan ekonomi Lampung triwulan pertama tahun 2020 disebabkan oleh penurunan kinerja di hampir semua lapangan usaha (LU).

Sektor primer terkontraksi dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan LU pertanian, kehutanan dan perikanan (-2,84%).

Di sisi lain, sektor sekunder dan tersier masih tumbuh positif meskipun lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Lampung berada di bawah pertumbuhan Sumatera dan Nasional yang masing-masing tumbuh 3,25% dan 2,97%.

"Dibandingkan dengan sepuluh provinsi di Sumatera, Lampung berada pada peringkat ke-8, turun signifikan dibandingkan dengan peringkat Lampung pada Triwulan I 2019 dan keseluruhan tahun 2019 yang tercatat pada peringkat ke-3 dan ke-2 tertinggi di Sumatera," jelasnya, Kamis (21/5).